IPO Kilang Minyak Terbesar Afrika, Kekayaan Aliko Dangote Berpotensi Tembus Rp1.000 Triliun
LAGOS, iNews.id - Kekayaan miliarder asal Nigeria sekaligus orang terkaya di Afrika, Aliko Dangote diproyeksikan melonjak hingga 22,9 miliar dolar AS atau setara Rp404,39 triliun (kurs Rp17.659 per dolar AS) setelah perusahaan kilang minyak Dangote Petroleum Refinery and Petrochemicals Fze menggelar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Berdasarkan perhitungan Bloomberg, kekayaan bersih Dangote yang saat ini mencapai 35,3 miliar dolar AS dapat meningkat menjadi 58,2 miliar dolar AS atau setara Rp1.027 triliun usai IPO perusahaan kilang minyak miliknya.
Melansir Bloomberg, lonjakan pundi-pundi ini berpotensi mengangkat posisi Dangote dalam daftar orang terkaya dunia. Dia diproyeksikan melewati miliarder dana lindung nilai asal Amerika Serikat (AS) Ken Griffin dan pengusaha teknologi Eric Schmidt.
IPO tersebut dibuka pada 14 September 2026 dengan target penghimpunan dana sekitar 1,6 miliar dolar AS. Aksi korporasi ini akan memberikan valuasi hampir 50 miliar dolar AS terhadap perusahaan.
Penawaran saham dijadwalkan berlangsung hingga 13 Oktober dan pencatatan saham di bursa diharapkan dilakukan tidak lama setelah periode IPO berakhir.
Kilang Minyak Terbesar
IPO ini menjadi bagian dari rencana Dangote membangun kerajaan bisnis berskala Afrika. Dia berencana menggandakan kapasitas kilang minyaknya di Nigeria yang saat ini mencapai 700.000 barel per hari.
Kilang tersebut dibangun dengan investasi sekitar 19 miliar dolar AS selama lebih dari satu dekade. Fasilitas yang berada di dekat Lagos itu dirancang sebagai kilang dengan satu rangkaian pengolahan terbesar di dunia.
Pembangunan kilang bukan perkara mudah. Sebelum konstruksi dimulai, kawasan rawa yang luasnya hampir setengah Manhattan harus distabilkan. Perusahaan juga membangun jalan, pelabuhan, serta dermaga untuk mendatangkan berbagai peralatan, termasuk lebih dari 300 crane.
Kilang Dangote mencapai kapasitas penuh pada tahun ini. Kehadiran fasilitas tersebut membantu Nigeria menghadapi gangguan pasokan yang terjadi di sejumlah negara akibat perang di Iran, sekaligus menjadikan negara dengan populasi terbesar di Afrika itu sebagai eksportir bahan bakar olahan bersih untuk pertama kalinya.
"Kita sebagai warga Nigeria dan Afrika harus berani dan memimpin perubahan untuk mengembangkan ekonomi kita," kata Dangote dalam seremoni penandatanganan IPO di Lagos.
Dangote menyebut pencatatan saham tersebut sebagai 'IPO untuk masyarakat'. Penawaran dirancang untuk menarik investor ritel maupun institusi, dengan jumlah minimum pembelian 10 saham dan status yang sesuai prinsip syariah.
Kilang minyak menjadi bagian penting dari strategi Dangote Group untuk meningkatkan pendapatan lima kali lipat menjadi 100 miliar dolar AS pada akhir dekade ini.
Fatima Dangote, salah satu putri Aliko Dangote sekaligus direktur eksekutif grup untuk bisnis minyak dan gas, mengatakan, bisnis semen dan pupuk juga akan menjadi pendorong pertumbuhan perusahaan.
Dangote Group saat ini memiliki tiga perusahaan yang tercatat di bursa, yakni Dangote Sugar Refinery Plc, Dangote Cement Plc, serta Nascon Allied Industries Plc yang bergerak di bisnis bumbu makanan.
Grup tersebut juga memiliki mayoritas saham Dangote Peugeot Automobile Nigeria, selain menjalankan bisnis di sektor pelayaran, energi, dan properti.
Ekspansi bisnis tersebut berlangsung bersamaan dengan regenerasi kepemimpinan di keluarga Dangote. Aliko mulai memberi peran yang lebih besar kepada Fatima dan dua putrinya yang lain.
Mariya Dangote, putri tertua, memimpin operasional bisnis makanan dan strategi komersial di unit semen. Sementara Halima Dangote menjabat sebagai direktur eksekutif grup untuk urusan family office.
Dari Bisnis Komoditas hingga Kilang Minyak
Dangote berasal dari keluarga kaya dan mulai menjalankan bisnis sendiri pada 1970-an dengan memperdagangkan kapas, kacang mete, kakao, serta biji wijen menggunakan pinjaman dari pamannya.
Pada 1981, dia membentuk perusahaan yang kemudian berkembang menjadi Dangote Group. Bisnis tersebut terus diperluas hingga mencakup pabrik gula, tepung, dan semen.
Strategi Dangote adalah membangun kapasitas pengolahan di dalam negeri untuk produk yang mahal jika harus diimpor. Langkah tersebut membantu bisnisnya berkembang sekaligus menjadikan Dangote salah satu pengusaha paling berpengaruh di Afrika.
Perjalanan bisnisnya kerap dibandingkan dengan sejumlah taipan Asia dan Amerika Latin, seperti Gautam Adani dan Mukesh Ambani dari India serta Carlos Slim dari Meksiko. Mereka sama-sama membangun kekayaan melalui investasi besar di sektor yang membutuhkan infrastruktur dalam skala besar.
Dangote bahkan pernah mengatakan ingin mengikuti jejak Ambani dengan menggunakan keuntungan dari kilang minyaknya untuk mengembangkan bisnis di sektor lain.









