Wall Street Dibuka Melemah, Inflasi Tinggi Tingkatkan Prospek Kenaikan Suku Bunga

Wall Street Dibuka Melemah, Inflasi Tinggi Tingkatkan Prospek Kenaikan Suku Bunga

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 11 September 2026 - 00:00
share

IDXChannel - Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Kamis (10/9/2026) setelah data harga produsen pada Agustus meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, sementara konflik yang semakin memanas di Timur Tengah membuat harga minyak tetap berada di atas USD100 per barel.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 312,92 poin atau 0,60 persen menjadi 52.067,74. S&P 500 turun 55,02 poin atau 0,72 persen menjadi 7.581,17, sedangkan Nasdaq Composite melemah 226,85 poin atau 0,86 persen menjadi 26.026,49.

Harga minyak mentah Brent naik 3,28 persen menjadi di atas USD100 per barel, membayangi prospek saham dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga dapat kembali dinaikkan bulan ini. Jalur pasokan melalui Selat Hormuz maupun Laut Merah masih mengalami gangguan berat akibat perang yang telah berlangsung selama enam bulan dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Mengindikasikan kenaikan biaya, laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan Producer Price Index (PPI) naik 5,4 persen pada Agustus secara tahunan sedikit lebih tinggi dibandingkan ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 5,3 persen.

Meskipun laporan PPI biasanya mendapat perhatian lebih rendah dibandingkan Consumer Price Index (CPI) yang akan dirilis pada Jumat, seluruh indikator ekonomi kini mendapat sorotan lebih besar setelah bank sentral menghentikan pemberian panduan mengenai kebijakan moneter.

Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun, yang bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga, melonjak ke 4,516 persen, level tertinggi sejak 2024.

Para trader kini memperkirakan peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pekan depan dengan taruhan sebesar 69,8 persen, naik dari sekitar 64 persen sebelum laporan Kamis dirilis, berdasarkan CME FedWatch.

Sektor consumer staples naik 0,09 persen, mencerminkan kecenderungan investor yang lebih berhati-hati untuk beralih ke sektor defensif saat mereka mencermati prospek inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Saham juga berada di bawah tekanan akibat imbal hasil surat utang pemerintah AS yang tinggi. Departemen Keuangan AS pada Rabu mengatakan akan membeli obligasi Treasury jangka panjang senilai hingga USD6 miliar sebagai bagian dari upaya mengendalikan imbal hasil.

Namun, imbal hasil US Treasury acuan tenor 10 tahun berada di 4,9198 persen, level tertinggi sejak 2023.

Perkembangan di pasar obligasi berdampak pada saham karena kenaikan imbal hasil US Treasury yang dianggap bebas risiko dapat membuat saham menjadi relatif kurang menarik.

Di antara saham yang bergerak signifikan, Macy’s berfluktuasi dan terakhir tercatat turun 2,4. Operator department store tersebut menaikkan proyeksi tahunan setelah kinerja yang lebih kuat dari perkiraan di jaringan kelas atas Bloomingdale’s dan Bluemercury.

American Eagle Outfitters turun 13,2 persen setelah perusahaan mempertahankan proyeksi penjualan tahunan yang sebanding dan mengatakan margin kotor pada kuartal berjalan kemungkinan tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Apple naik tipis 1,1 persen sehari setelah meluncurkan Duo, iPhone lipat dengan harga USD1.999.

Jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan saham yang naik dengan rasio 3,07 banding 1 di NYSE dan 2,45 banding 1 di Nasdaq.

S&P 500 mencatat tujuh saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 20 saham yang mencapai level terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 18 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 132 saham yang mencapai level terendah baru.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik