Daya Beli Mulai Pulih, ACES Catat Penjualan Rp4,54 Triliun di Semester I-2026
IDXChannel - PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) berhasil membukukan kinerja operasional yang solid pada paruh pertama tahun ini. Emiten pengelola jaringan ritel perlengkapan rumah tangga tersebut mencatatkan penjualan bersih Rp4,54 triliun dengan perolehan laba bersih mencapai Rp390 miliar pada semester I-2026.
Pertumbuhan penjualan perseroan pada paruh pertama tahun ini mencerminkan keberhasilan strategi penetrasi ritel dan adaptasi terhadap daya beli konsumen yang mulai membaik. Momentum positif tersebut membuat perseroan mampu mempertahankan tren kenaikan laba di tengah dinamika indeks keyakinan konsumen pascalebaran.
"Penjualan bersih kami meningkat 6,3 persen year-on-year menjadi Rp4,54 triliun dengan laba bersih mencapai Rp390 miliar berkat kontribusi same-store sales growth yang positif serta ekspansi jaringan toko baru," ujar Head of Investor Relations AHI (ACES), Billy Utama dalam siaran paparan publik secara virtual, Kamis (10/9/2026).
Kinerja positif tersebut turut ditopang penjualan pada kuartal II-2026 yang tumbuh 3,5 persen secara tahunan menjadi Rp2,19 triliun. Manajemen mencermati daya beli masyarakat bergerak lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, kendati kondisinya belum sepenuhnya kembali ke level normal seiring penurunan Indeks Keyakinan Konsumen setelah periode hari raya.
Sejalan dengan kenaikan omzet, laba kotor perseroan terdongkrak 6,4 persen menjadi Rp2,15 triliun dengan marjin laba kotor (gross margin) sebesar 47,4 persen. Pada kuartal kedua, marjin laba kotor bahkan menanjak ke level 48,5 persen atau kembali ke rentang rata-rata normal historis perseroan.
Kenaikan margin ini didorong penyesuaian harga jual berkala pada sejumlah kategori produk untuk meredam pelemahan nilai tukar rupiah serta lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik Amerika Serikat dan Iran, di samping optimalisasi bauran produk.
Kondisi tersebut mengerek laba operasi inti tumbuh 7 persen secara tahunan. Perseroan juga membukukan pendapatan keuntungan selisih kurs yang belum terealisasi, sehingga laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat hingga 21 persen.
Penguatan marjin dan efisiensi operasional perseroan ditopang oleh struktur neraca yang kokoh tanpa beban pembiayaan eksternal. Likuiditas yang berlimpah memberi keleluasaan bagi manajemen dalam menjaga perputaran modal kerja dan rantai pasok secara berkesinambungan.
"Posisi keuangan kami sangat solid dengan net cash position tanpa utang berbunga dari lembaga keuangan, di mana arus kas operasional yang kuat dan siklus konversi kas yang stabil didukung penurunan persediaan yang lebih sehat," kata Billy.
Dari sisi produktivitas gerai, perseroan mencatatkan pertumbuhan penjualan di toko yang sama (same-store sales growth/SSSG) sebesar 2,2 persen pada semester I-2026 dan bertahan di level 2,0 persen hingga bulan ketujuh.
Pertumbuhan SSSG paruh pertama ditopang oleh wilayah Jakarta sebesar 4,4 persen dan Jawa di luar Jakarta sebesar 3,0 persen. Tren berlanjut hingga Juli dengan kenaikan masing-masing 4,2 persen untuk Jakarta dan 3,2 persen untuk Jawa luar Jakarta, termasuk sokongan format toko baru di Pondok Indah Mall dan Living Plaza Bintaro yang membukukan pertumbuhan penjualan low double digit.
Kinerja penjualan di luar Pulau Jawa tercatat menunjukkan daya serap pasar yang melampaui rata-rata pertumbuhan skala nasional. Fenomena tersebut kian mempertegas arah kebijakan ekspansi perseroan dalam membidik peluang bisnis di kota-kota baru.
"Meski same-store sales growth di luar Jawa tercatat flat, pertumbuhan total penjualan di kawasan tersebut jauh lebih kuat daripada skala nasional sehingga kami tetap mempertahankan seluruh guidance tahun ini dengan target penjualan tumbuh 6 hingga 8 persen," kata Billy.
Manajemen ACES optimistis mempertahankan pedoman kinerja 2026 dengan target SSSG berada di rentang 2 hingga 4 persen, mengingat realisasi seluruh indikator hingga Juli masih berada dalam koridor target.
Untuk menopang sasaran tersebut, perseroan terus menambah portofolio toko fisik setelah mencatatkan 274 gerai Azko dengan total luasan mencapai 662.000 meter persegi per akhir Juni 2026, yang didampingi 79 gerai Toys Kingdom, 20 toko Neka, serta sejumlah gerai Ataru dan Pendopo di lebih dari 60 kota.
Perseroan telah menyiapkan alokasi anggaran ekspansi dalam jumlah besar guna mengejar target pembukaan puluhan gerai baru pada paruh kedua tahun ini. Penyerapan modal tersebut akan difokuskan untuk memperluas jangkauan jaringan toko fisik merek Azko maupun merek anyar Neka hingga pengujung tahun.
"Kami telah menyerap capex sekitar Rp91 miliar di semester pertama dan akan merealisasikan sisa anggaran Rp400 hingga Rp450 miliar untuk menambah 20 sampai 25 toko Azko serta 40 hingga 50 gerai Neka sepanjang tahun ini," ucap Billy.
Perlu diketahui, realisasi belanja modal pada semester I-2026 yang baru mencapai 20 hingga 23 persen dari total pagu sejalan dengan konsentrasi pembukaan toko yang lebih padat di paruh kedua.
Setelah membuka 10 toko baru di semester pertama, jaringan gerai Azko bertambah menjadi 15 unit per Agustus 2026, di mana sembilan di antaranya merambah kota anyar seperti Berau, Pasuruan, Pekalongan, Timika, Kuningan, Tabanan, Tomohon, Baubau, dan Duri Riau.
Langkah ini menjadikan total toko Azko mencapai 279 unit, meliputi 133 toko di Jawa luar Jakarta, 94 toko di luar Jawa, dan 52 toko di Jakarta.
Secara bersamaan, perseroan memacu ekspansi merek Neka dengan membuka 16 toko baru hingga Juli 2026 di kawasan Lampung, Palembang, Bogor, Yogyakarta, Subang, Cilacap, Pemalang, Tegal, dan Boyolali, sehingga akumulasinya mencapai 26 gerai per Agustus 2026.
Perseroan menargetkan sedikitnya 14 gerai Neka tambahan pada sisa tahun ini guna melengkapi target pembukaan 40 hingga 50 toko anyar secara keseluruhan.
(NIA DEVIYANA)










