TOWR Kantongi Kontrak Jangka Panjang Lebih dari Rp100 Triliun

TOWR Kantongi Kontrak Jangka Panjang Lebih dari Rp100 Triliun

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 8 September 2026 - 13:30
share

IDXChannel - PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mengantongi nilai kontrak jangka panjang yang belum terealisasi (remaining contract revenue) lebih dari Rp100 triliun hingga 2045. Kontrak tersebut berpotensi menjadi salah satu penopang pendapatan di tengah transformasi bisnis perseroan menuju platform infrastruktur digital terintegrasi.

Nilai kontrak yang belum terealisasi tersebut ditopang oleh skala bisnis TOWR yang kini mengoperasikan sekitar 37.000 menara telekomunikasi dan jaringan serat optik sepanjang 182.000 kilometer di seluruh Indonesia.

Director & Group Investor Relations PT Sarana Menara Nusantara Tbk, Hartono Tanuwidjaja, mengatakan kontrak jangka panjang yang bersifat mengikat memberikan tingkat kepastian pendapatan bagi perseroan. Kontrak tersebut juga tidak dapat dibatalkan secara sepihak oleh operator telekomunikasi.

“Kami telah bertransformasi dari penyedia menara tradisional menjadi digital infrastructure platform dengan kepemilikan 37.000 menara dan 182.000 kilometer jaringan fiber di seluruh Indonesia. Model bisnis kami sangat resilien dengan pendapatan kontrak jangka panjang yang tidak bisa dibatalkan yang nilainya saat ini sudah melampaui Rp100 triliun,” ujar Hartono dalam Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).

Kinerja positif tersebut turut didukung struktur permodalan perseroan yang sehat dan peringkat investasi internasional. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi TOWR untuk memperoleh biaya pendanaan yang kompetitif sekaligus mendukung ekspansi jaringan secara berkelanjutan.

“Kami memiliki peringkat investment grade BBB- dari S&P dan BBB dari Fitch sehingga biaya dana sangat rendah dan rasio utang bersih terhadap EBITDA nyaman di bawah 4 kali. Skema bisnis build-to-suit memastikan belanja modal tidak spekulatif dan menghasilkan imbal hasil sejak hari pertama, didukung penyesuaian harga sewa tahunan untuk mengimbangi inflasi biaya operasional,” kata Hartono.

Selain kontrak jangka panjang, monetisasi aset TOWR dilakukan melalui skema kolokasi, yakni satu menara dapat digunakan oleh sejumlah penyewa. Rasio penyewaan atau tenancy ratio perseroan saat ini mencapai 1,65 kali dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Maluku hingga Papua.

Di bisnis serat optik, perseroan juga mencatat tingkat utilisasi yang tinggi melalui layanan Fiber to the Tower (FTTT), Fiber to the Home (FTTH), serta konektivitas korporasi.

“Jaringan FTTT kami menghasilkan lebih dari 234.000 titik pendapatan dengan rasio utilisasi 161 persen di 340 kota, sementara FTTH telah menjangkau hampir 1,9 juta homepass di 120 kota dengan penetrasi 20 persen. Pada segmen konektivitas, kami melayani hampir 9.000 pelanggan korporasi di 347 kota dengan kabel berkapasitas 12 hingga 48 cores yang menyisakan ruang kapasitas untuk sumber pendapatan baru,” paparnya.

Di luar bisnis menara dan serat optik, TOWR terus memperluas ekosistem infrastruktur digital ke sejumlah lini bisnis bernilai tambah. Diversifikasi tersebut mencakup layanan satelit VSAT, perbankan mandiri, solusi transisi energi hijau, hingga integrasi kecerdasan artifisial (AI).

“Ekosistem bisnis kami kini mencakup layanan managed service, VSAT, Software as a Service (SaaS), serta jaringan hampir 9.000 ATM white-label bermitra dengan Seven Bank Jepang dan payment gateway. Kami juga memperluas portofolio ke Energy Solution dan Power as a Service berbasis energi hijau, serta mulai merambah aktivitas terkait AI dan system integrator,” kata Hartono.

(Rahmat Fiansyah)

Topik Menarik