Empat Bandara di Indonesia Sudah Bersih dari Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Empat Bandara di Indonesia Sudah Bersih dari Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Terkini | idxchannel | Senin, 7 September 2026 - 21:14
share

IDXChannel - Empat bandara di Indonesia sudah bersih dari sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Hal ini diketahui dari hasil paper test.

"Empat bandara yang posisi dari pengamatan paper test itu telah menunjukkan negatif, yaitu di Bandara Soekarno Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, dan Budiarto Curug," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani saat ratas bersama Presiden RI, Prabowo Subianto, Senin (7/9/2026).

"Untuk Soekarno Hatta, ini empat kali berturut-turut paper testnya telah menunjukkan hasil negatif, artinya tidak ada debu vulkanik yang terpantau dari paper test ini," lanjutnya. 

Dia melanjutkan, hasil tersebut telah dikomunikasikan dengan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin. Adapun soal penentuan pembukaan bandara tersebut, bakal disampaikan otoritas bandara dan Kemenhub. Pastinya, berdasarkan pengamatan paper test tersebut, empat bandara tersebut telah bersih dari debu vulkanik.

"Bapak Menteri Perhubungan selanjutnya akan menjelaskan terkait dengan otoritas bandara yang akan menentukan pembukaan, mungkin secara terbatas dari bandara-bandara yang telah dipantau empat kali berturut-turut telah bersih dari debu vulkanik," katanya.

Dalam ratas bersama Presiden, Kepala BMKG menerangkan tentang sebaran debu vulkanik menunjukkan hal positif dalam beberapa waktu terakhir. Sebabnya, pada ketinggian 15.000 feet hingga 50.000 feet, angin bertiup ke arah barat dan sebagian di barat laut dan barat daya.

"Jadi tidak ada lagi yang sebelumnya untuk abu vulkanik di bawah ketinggian 15.000 feet itu masih bertiup ke arah tenggara sehingga beberapa sampai saat ini ada 9 bandara yang di Notam-nya masih ditutup. Jadi sekarang anginnya ke sana," katanya.

Disamping itu, kata dia, pihaknya memantau adanya potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada tanggal 9-12 September 2026 mendatang di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Pihaknya juga telah menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB untuk penanganan sebaran debu vulkanik tersebut.

"Secara efektif operasi modifikasi cuaca dan juga hujan yang akan terjadi tanggal 9-15 September nanti dapat mengurangi dampak dari abu vulkanik ini," jelasnya.

Dia mengungkap, pihaknya juga telah memasang alat 20 tsunami gauge dan sensor seismograf yang tersebar di sekitar area Selat Sunda untuk memantau ada tidaknya anomali kenaikan muka air laut yang berpotensi tsunami imbas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pihaknya juga memasang high frequency radar yang dapat memantau kondisi gelombang, arus, angin, dan potensi tsunami. Hingga saat ini, pihaknya belum menemukan anomali tersebut.

Lalu, kata dia, berdasarkan pemantauan medan magnet bumi dan petir vulkanik, adanya peluruhan erupsi saat ini. BMKG bersama Ditjen Perhubungan Laut telah menerbitkan Notice to Mariners tentang pelarangan pergerakan atau aktivitas kapal dalam radius 3 km dari kawah Gunung Anak Krakatau selama Badan Geologi menetapkan status Level 3 atau Siaga.

(Nur Ichsan Yuniarto)

Topik Menarik