Bursa Asia Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi
IDXChannel - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026), tertekan lonjakan harga energi dan kenaikan imbal hasil obligasi global di tengah kembali memanasnya konflik geopolitik.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,2 persen pada awal perdagangan. Hang Seng Hong Kong melemah 0,7 persen, dengan sentimen turut dibayangi debut saham Shein Global yang kurang menggembirakan.
Tekanan juga terjadi di bursa regional lainnya. Kospi Korea Selatan turun 0,54 persen, Straits Times Index (STI) Singapura melemah 0,41 persen, sementara ASX 200 Australia merosot 0,16 persen.
Sentimen pasar global memburuk setelah aksi jual obligasi mendorong imbal hasil ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Mengutip Reuters, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman dan Prancis bertenor panjang pada Senin mencapai level tertinggi dalam 15 tahun.
Tekanan berlanjut hingga perdagangan Asia pada Selasa. Kontrak berjangka bund Jerman menyentuh level terendah dalam 15 tahun, sedangkan kontrak berjangka obligasi pemerintah Prancis atau OAT berada di level terendah sejak diluncurkan pada 2012.
Di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun naik 2,2 basis poin menjadi 4,78 persen atau mendekati level tertinggi dalam 20 bulan.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mendekati 3 persen, level yang tidak terlihat selama beberapa dekade.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran pasar. Harga minyak mentah Brent sempat menembus USD91 per barel pada perdagangan pagi di Asia setelah kembali terjadi pertempuran di Timur Tengah.
Memanasnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi sekaligus risiko inflasi global.
Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran.
Di sisi lain, eskalasi pertempuran antara Rusia dan Ukraina turut mendorong harga gandum bergerak mendekati level tertinggi dalam tiga tahun.
Kenaikan harga energi dan komoditas memperumit prospek kebijakan moneter global. Pasar kini memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga di sejumlah negara, termasuk Selandia Baru pada Rabu serta Eropa pada pekan depan.
Peluang kenaikan suku bunga di AS dan Jepang pada bulan ini juga diperkirakan lebih dari 50 persen.
Investor kini menantikan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada Jumat, yang dapat menjadi petunjuk penting terhadap arah kebijakan Federal Reserve.
Harga minyak yang lebih tinggi dan meningkatnya ketegangan AS-Iran memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat.
Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar obligasi, terutama setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberi sinyal bahwa bank sentral dapat kembali mengetatkan kebijakan apabila tekanan harga tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. (Aldo Fernando)








