September Effect Jadi Ujian IHSG, Mampukah Tren Negatif Dipatahkan?

September Effect Jadi Ujian IHSG, Mampukah Tren Negatif Dipatahkan?

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 1 September 2026 - 06:58
share

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi volatil sepanjang September 2026.

Setelah menguat 4,64 persen pada Agustus, IHSG akan dibayangi sentimen kebijakan moneter global yang cenderung hawkish, risiko geopolitik, hingga rebalancing indeks FTSE Russell.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata melalui riset KSI Research Monthly Outlook September 2026, yang terbit pada 31 Agustus 2026, memperkirakan IHSG bergerak dalam kisaran 6.300-6.650 sepanjang September.

Kiwoom menilai IHSG masih memiliki peluang untuk mencatatkan kinerja positif pada September, meski skenario utamanya tetap mengarah pada konsolidasi dengan bias pelemahan jangka pendek.

Probabilitas IHSG ditutup positif diperkirakan berada di kisaran 40-45 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan probabilitas historis sebesar 33 persen dalam periode 2017-2026.

Secara historis, September memang menjadi salah satu bulan yang kurang bersahabat bagi IHSG. Rata-rata return IHSG dalam 10 tahun terakhir pada September tercatat minus 0,94 persen.

“Sejarah September berat, tapi bukan alasan untuk panik,” tulis KSI Research dalam laporan tersebut.

Dalam kamus pasar saham, dikenal istilah September Effect, yakni fenomena historis ketika pasar saham cenderung mencatat kinerja lebih lemah pada September dibandingkan bulan lainnya, meski pola ini tidak selalu terjadi setiap tahun.

Menurut Kiwoom, tekanan terhadap IHSG berpotensi meningkat pada pertengahan September, ketika sejumlah bank sentral utama dunia mengambil keputusan mengenai kebijakan suku bunga.

Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan menggelar pertemuan pada 10 September, Federal Reserve (The Fed) pada 15-16 September, dan Bank of Japan (BOJ) pada 17-18 September.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi salah satu risiko utama. CME FedWatch mencatat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 34 persen, sementara peluang kenaikan pada Desember mencapai 74 persen.

Ekspektasi tersebut muncul di tengah inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi. Core PCE, indikator inflasi yang menjadi perhatian The Fed, tercatat tumbuh 3,3 persen secara tahunan pada Juli, sedangkan PCE headline mencapai 3,7 persen.

Di pasar obligasi, yield US Treasury 10 tahun telah berada di kisaran 4,6-4,7 persen dan yield tenor dua tahun di kisaran 4,2-4,3 persen.

Menurut Kiwoom, pergerakan tersebut menunjukkan pasar obligasi mulai mengantisipasi arah kebijakan moneter yang lebih ketat.

Tekanan juga datang dari Eropa dan Jepang. ECB membuka peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September setelah sebelumnya mempertahankan suku bunga pada Juli.

Sementara itu, inflasi inti Tokyo pada Agustus masih bertahan di kisaran 1,8-1,9 persen secara tahunan, yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga BOJ.

Penguatan yen juga menjadi perhatian karena dapat mendorong pengurangan posisi yen carry trade.

Jika tren tersebut berlanjut, Kiwoom menilai sebagian likuiditas global yang selama ini mengalir ke aset berisiko, termasuk saham emerging market seperti Indonesia, berpotensi mengetat menjelang pertemuan BOJ.

Selain kebijakan moneter global, perkembangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi wildcard lain bagi pasar. Ketegangan terkait Iran membuat harga minyak tetap volatil di kisaran USD83-USD90 per barel.

Bagi Indonesia, harga minyak yang tinggi dan volatil menjadi pedang bermata dua.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor energi, tetapi di sisi lain berisiko menambah beban subsidi serta menekan neraca perdagangan apabila berlangsung hingga akhir tahun.

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026. Namun, Kiwoom mencatat sejumlah tantangan, terutama dari sisi konsumsi dan neraca perdagangan.

Penjualan ritel Juni 2026 terkontraksi 3 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, impor melonjak 34,27 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 8,84 persen.

Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Juni berbalik mencatat defisit USD0,45 miliar.

Kiwoom menilai kombinasi tersebut mengindikasikan pertumbuhan ekonomi mungkin lebih banyak ditopang oleh belanja modal atau investasi dibandingkan konsumsi rumah tangga secara luas.

Sementara itu, pasar saham domestik juga menghadapi risiko teknikal dari rebalancing FTSE Russell.

Dalam tinjauan semi-tahunan September, sebanyak 29 saham Indonesia akan dikeluarkan sepenuhnya dari indeks FTSE Global Equity, sedangkan 10 saham lainnya mengalami penurunan klasifikasi.

Hasil tinjauan tersebut final setelah penutupan 4 September dan berlaku efektif mulai penutupan 18 September atau perdagangan 21 September. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan jual pasif dari dana (fund) yang mengikuti indeks terhadap saham-saham terdampak.

Di sisi lain, masih terdapat katalis positif yang dapat menopang IHSG. Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen dan masih memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran apabila pergerakan rupiah mendukung.

Pasar komoditas juga memberikan dukungan, terutama dari CPO, nikel, dan emas.

Harga CPO Malaysia tercatat berada dalam tren naik di kisaran 4.677-4.847 ringgit Malaysia per ton.

Kiwoom menilai potensi El Niño berkembang menjadi episode “super” pada akhir tahun dapat memberikan dukungan tambahan terhadap harga CPO dan kinerja emiten perkebunan Indonesia menjelang musim laporan keuangan kuartal III-2026.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Kiwoom melihat tekanan pada September lebih sebagai fase konsolidasi dalam tren re-rating yang lebih besar.

Kiwoom masih mempertahankan target IHSG akhir 2026 di kisaran 7.250-7.700, dengan catatan lima uji re-rating terus menunjukkan perkembangan menjelang review MSCI pada November 2026.

Kiwoom juga mencatat pola historis ketika IHSG menguat pada Agustus lalu melemah pada September terjadi dalam enam dari sembilan tahun terakhir.

Namun, periode pelemahan tersebut secara historis juga membuka peluang akumulasi menjelang reli pada Oktober-Desember.

Dalam risetnya, Kiwoom menyebut volatilitas September berpotensi menjadi kesempatan bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang untuk melakukan re-entry pada saham-saham dengan fundamental kuat, bukan semata-mata menjadi sinyal untuk keluar dari pasar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik