Saham Bank Besar Bertenaga di Awal September, Simak Proyeksinya

Saham Bank Besar Bertenaga di Awal September, Simak Proyeksinya

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 1 September 2026 - 10:30
share

IDXChannel – Saham bank-bank besar kompak menguat pada perdagangan Selasa (1/9/2026), seiring sentimen positif terhadap prospek sektor perbankan di tengah perubahan kondisi suku bunga dan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.20 WIB, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 1,54 persen ke Rp3.300 per unit. Dalam sepekan, saham bank pelat merah tersebut telah naik 3,77 persen.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga naik 0,95 persen ke Rp4.270 per unit, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menguat 0,78 persen menjadi Rp3.890 per unit.

Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terapresiasi 0,77 persen ke Rp6.525 per unit.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai pergerakan saham perbankan turut ditopang oleh ekspektasi terhadap arah suku bunga dan penguatan rupiah.

“Kenaikan suku bunga serta penurunan dolar terhadap rupiah, menjadi salah satu katalis dari perbankan,” kata Michael, Selasa (1/9/2026).

Menurut dia, bank-bank besar dengan porsi CASA yang tinggi memiliki keunggulan dalam menjaga biaya dana.

Struktur pendanaan tersebut memungkinkan bank mempertahankan margin ketika suku bunga bergerak tinggi, karena biaya dana relatif lebih rendah dibandingkan bank yang lebih bergantung pada deposito berjangka.

Dari sisi teknikal, BBRI dinilai telah berhasil keluar dari fase konsolidasi dengan potensi kenaikan menuju Rp3.500. Michael menilai, level support berada di sekitar Rp3.190.

Untuk BBCA, Michael melihat level Rp6.500 menjadi area penting. Jika mampu bertahan di atas level tersebut, saham BBCA berpeluang melanjutkan penguatan menuju Rp7.500.

Kualitas Pendanaan

Kualitas pendanaan (funding quality) menjadi salah satu faktor pembeda utama kinerja perbankan pada paruh kedua 2026.

Di tengah pertumbuhan kredit yang masih kuat dan likuiditas yang semakin ketat, bank dengan pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA) yang lebih tinggi dinilai memiliki posisi lebih baik untuk menjaga margin dan profitabilitas.

Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan menilai perbedaan tersebut terlihat jelas pada kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) hingga Juli 2026.

CASA BBCA tumbuh 10,9 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan kredit 8,4 persen, sementara deposito berjangka turun 5 persen.

Struktur tersebut menjaga loan to deposit ratio (LDR) BBCA tetap rendah di level 79,6 persen dan memberikan ruang lebih besar untuk mempertahankan margin.

Sebaliknya, kredit BMRI tumbuh 19,5 persen, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan CASA sebesar 6,6 persen.

Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, deposito berjangka melonjak 61,1 persen, mendorong LDR naik menjadi 94,8 persen dan meningkatkan tekanan biaya dana.

Menurut UOB Kay Hian, kondisi likuiditas semakin penting karena pertumbuhan kredit masih terkonsentrasi pada segmen korporasi dan investasi, sementara pertumbuhan dana organik belum sepenuhnya mengimbangi ekspansi kredit.

Likuiditas dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dapat meredakan tekanan dalam jangka pendek, tetapi belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan struktural pendanaan, terutama di bank-bank BUMN.

Pada paruh kedua 2026, kemampuan bank menaikkan imbal hasil aset lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya pendanaan akan menjadi faktor penting bagi kinerja laba.

Pembayaran kembali kredit Koperasi Desa Merah Putih (KopDes) pada September-Desember juga akan menjadi salah satu ujian likuiditas bagi bank-bank Himbara. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik