Gagal Bayar Kupon Obligasi Rp60,82 Miliar, Pefindo Turunkan Peringkat Adhi Karya
IDXChannel - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) secara resmi menurunkan peringkat korporasi PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) beserta surat utang yang diterbitkannya menjadi idCCC.
Keputusan pemangkasan peringkat emiten BUMN karya ini diambil menyusul ketidakmampuan perseroan dalam melunasi kewajiban utang yang telah jatuh tempo.
“Pefindo menurunkan peringkat korporasi PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dan surat utang yang beredar ke idCCC dari sebelumnya idB. Prospek untuk peringkat perusahaan tetap pada CreditWatch dengan implikasi negatif,” ujar analis Pefindo, William Siregar dan Yogie Perdana, dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (25/8/2026).
Pefindo memaparkan bahwa langkah penurunan peringkat ini merupakan tindak lanjut atas kegagalan perseroan dalam memenuhi kewajiban pembayaran kupon atas Obligasi Berkelanjutan III tahap III seri B dan C senilai Rp 60,82 miliar yang jatuh tempo pada 24 Agustus 2026.
Kegagalan ADHI untuk menuntaskan kewajiban tersebut dalam masa perbaikan (periode remedial) dinilai berisiko memicu penurunan peringkat lanjutan.
"Kami dapat meninjau kembali peringkat perusahaan apabila ADHI mampu mengatasi permasalahan terkait kewajiban utang yang jatuh tempo tersebut, termasuk menunjukkan kapasitas dan resolusi yang berkelanjutan atas kewajiban keuangan yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat," kata Pefindo dalam laporannya.
Kendati dibayangi tekanan utang, perseroan sejatinya membukukan kenaikan laba bersih di tengah penurunan tipis pada pos pendapatan usaha sepanjang Januari–Maret 2026.
ADHI mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp1,66 triliun pada kuartal I-2026, menyusut tipis dari perolehan kuartal I-2025 yang senilai Rp1,68 triliun.
Dari aspek profitabilitas, perseroan mencetak laba kotor sebesar Rp553,02 miliar. Sementara itu, perolehan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan terkerek naik 46 persen YoY hingga menyentuh Rp464 miliar.
Dari sisi indikator solvabilitas dan likuiditas, rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) berbasis utang berbunga (Interest Bearing Debt) berada di level 2,4 kali, rasio kemampuan membayar bunga (EBITDA to Interest/TIE) tercatat sebesar 2,55 kali, serta rasio lancar (Current Ratio) bertengger di posisi 1,01 kali. (Wahyu Dwi Anggoro)









