Bitcoin Naik 24,3 dalam Sepekan, Investor Cermati Regulasi Kripto AS

Bitcoin Naik 24,3 dalam Sepekan, Investor Cermati Regulasi Kripto AS

Ekonomi | sindonews | Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:00
share

Harga Bitcoin menguat 24,31 dalam sepekan hingga Senin (24/8/2026) di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap perkembangan regulasi aset kripto di Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter AS serta kondisi ekonomi dan geopolitik global yang masih berpotensi memengaruhi volatilitas aset digital.

"Penguatan Bitcoin menunjukkan bahwa sentimen pasar dapat berubah dengan cepat ketika muncul perkembangan positif terkait regulasi. Namun, investor tetap perlu melihat kondisi pasar secara menyeluruh karena volatilitas aset kripto masih cukup tinggi," ujar Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn seperti dikutip pada Selasa (25/8/2026).

Baca Juga: Pasar Futures Indonesia Berpeluang Tumbuh, Literasi dan Edukasi Perlu Diperkuat

Berdasarkan data CoinMarketCap per Senin (24/8), harga Bitcoin berada di kisaran USD79.000, menguat 3,72 dalam 24 jam dan mencatat kenaikan sekitar 24,31 dalam sepekan. Penguatan tersebut berlangsung seiring kembali meningkatnya ekspektasi terhadap CLARITY Act, rancangan regulasi aset kripto di AS.

CLARITY Act menjadi perhatian industri karena berpotensi memberikan kejelasan mengenai klasifikasi aset kripto serta pembagian kewenangan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendorong Kongres mengesahkan rancangan regulasi tersebut.Ryan mengatakan selain regulasi, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed tetap menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS dapat memengaruhi likuiditas serta minat investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.

"Dalam kondisi seperti sekarang, investor perlu melihat penguatan Bitcoin bukan hanya dari pergerakan harga, tetapi juga dari faktor yang mendasarinya. Kebijakan moneter, kondisi ekonomi global, dan perkembangan regulasi masih dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat," katanya.

Baca Juga:Mata Uangnya Runtuh, Ini Cara Cerdas Iran Danai Perang Melawan AS-Israel

Menurut Ryan, kondisi geopolitik dan ekonomi global juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar melalui perubahan ekspektasi pertumbuhan ekonomi, inflasi, maupun kebijakan pemerintah. Sementara itu, proses legislasi CLARITY Act yang masih berjalan membuat investor perlu mencermati perkembangan kebijakan sebelum menjadikan sentimen regulasi sebagai dasar keputusan investasi.

Ryan menambahkan pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan masih dipengaruhi kombinasi sentimen regulasi, kebijakan moneter AS, dan kondisi ekonomi global. Investor dinilai perlu memahami risiko instrumen yang digunakan, terutama pada perdagangan berjangka (futures) yang menggunakan leverage karena dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian.

Topik Menarik