Bisnis Data Center Indonesia Masuk Fase Awal, Deretan Saham Berpeluang Cuan
IDXChannel – Bisnis data center Indonesia memasuki fase pertumbuhan awal dengan pipeline kapasitas yang sangat besar.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan memperkirakan kapasitas data center Indonesia dapat melonjak menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada 2030, dari sekitar 580 megawatt (MW) per semester I-2026.
Dalam riset yang terbit pada 21 Agustus 2026, keduanya menyebut pertumbuhan tersebut setara dengan compound annual growth rate (CAGR) 56,7 persen sepanjang 2026-2030.
Pertumbuhan didorong meningkatnya kebutuhan cloud computing dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan kapasitas komputasi berbasis GPU dalam jumlah besar.
Di sisi lain, Singapura mulai membatasi penambahan kapasitas data center melalui kebijakan DC-CFA, sementara Johor di Malaysia sebagai lokasi limpahan pertama menghadapi keterbatasan pasokan listrik.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi tujuan limpahan berikutnya di kawasan.
Jakarta dan Batam Jadi Lokasi Utama
Saat ini sekitar 55 persen kapasitas data center Indonesia masih terkonsentrasi di Jakarta. Namun, pipeline pengembangan menunjukkan ekspansi yang semakin agresif, terutama di Jakarta dan Batam.
Jakarta memiliki pipeline sekitar 1,7 GW dengan kapasitas operasional 322 MW. Artinya, rasio pipeline terhadap kapasitas operasional mencapai 5,3 kali.
Sementara itu, Batam memiliki pipeline sekitar 1,4 GW dari kapasitas operasional 126 MW.
Berbeda dengan Jakarta yang lebih banyak ditopang permintaan domestik, Batam berpotensi menjadi pusat limpahan dari pasar regional.
Sekitar 71 persen pipeline Batam berasal dari segmen hyperscale dan sebagian besar dikembangkan oleh pemain swasta serta perusahaan asing.
Di Jakarta, hyperscale menyumbang sekitar 34 persen, dengan permintaan yang lebih banyak berasal dari kebutuhan cloud dibandingkan AI.
Pemain Asing Kuasai Pipeline Besar
BRI Danareksa mencatat sebagian besar komitmen kapasitas terbesar masih berasal dari operator swasta dan asing.
Beberapa proyek utama antara lain DAMAC Digital dengan rencana kapasitas 163 MW, Princeton Digital 360 MW, ST Telemedia 322 MW, GDC 200 MW, DayOne 450 MW, EdgeConneX 200 MW, BW Digital 120 MW, serta Racks Central 95 MW.
Di sisi lain, sejumlah emiten lokal mulai menawarkan eksposur terhadap pertumbuhan bisnis data center, meski sebagian besar masih berada pada tahap awal pengembangan.
Analis menilai PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi emiten yang memiliki eksposur paling langsung terhadap ekspansi data center.
TLKM memiliki target harga Rp3.500 dengan rekomendasi Buy. Sementara ISAT juga mendapat rekomendasi Buy dengan target harga Rp2.500. DSSA dan DCII belum memiliki rating dari BRI Danareksa Sekuritas.
TLKM disebut berpotensi mendapatkan katalis dari divestasi 70 persen NeutraDC dengan valuasi sekitar USD1,0-1,5 miliar.
Sementara ISAT diperkirakan memiliki sekitar 30 persen kepemilikan di neocloud Zankore.
Untuk DSSA, proyek SMX01 ditargetkan siap beroperasi atau ready for service (RFS) pada kuartal IV-2026 dengan kapasitas awal 18 MW yang dapat ditingkatkan hingga 60 MW.
Sementara itu, DCII menjadi pure-play data center terbesar di antara emiten tercatat dengan kapasitas operasional 128 MW. Perseroan juga memiliki pipeline terbesar, termasuk proyek di Bintan dengan kapasitas lebih dari 1 GW.
Selain nama-nama tersebut, MGLV, INET, dan BNBR dinilai masih berada pada tahap lebih awal dan layak dipantau seiring bertambahnya aset data center.
Listrik dan Skala Jadi Penentu
BRI Danareksa menilai prospek bisnis data center Indonesia bersifat struktural dan berpotensi berlangsung dalam jangka panjang. Namun, besarnya pipeline saja tidak akan cukup untuk menentukan pemenang.
Ketersediaan listrik yang aman serta kemampuan membangun dan mengoperasikan fasilitas dalam skala besar akan menjadi faktor pembeda utama di tengah perlombaan pengembangan data center Indonesia.
Secured power dan skala operasional dinilai akan menjadi kunci bagi perusahaan untuk menangkap peluang pertumbuhan industri yang masih berada pada tahap awal tersebut. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










