Menakar Prospek Saham Pulp dan Kertas di Tengah Ekspansi Kapasitas
IDXChannel – Harga pulp jenis Bleached Hardwood Kraft (BHK) di China mulai tertekan akibat lemahnya permintaan dan sikap pembeli yang cenderung menahan stok.
Meski demikian, tekanan harga dinilai masih terbatas sebelum tambahan kapasitas baru mulai beroperasi.
Analis RHB Sekuritas Wendy Chandra dalam riset yang terbit pada 18 Agustus 2026 memperkirakan harga BHK dapat menguji level USD550 per ton pada kuartal III-2026.
Namun, penurunan berkelanjutan di bawah level tersebut dinilai masih sulit terjadi sebelum pasokan baru masuk ke pasar.
RHB Sekuritas pun menjadikan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) sebagai top pick di sektor forest products and paper.
Wendy menjelaskan, harga BHK di China telah turun menjadi USD563 per ton pada awal Agustus 2026, atau turun 0,7 persen secara mingguan dan 3,3 persen secara bulanan. Level tersebut bahkan berada di bawah estimasi RHB sebelumnya sebesar USD580-590 per ton untuk kuartal III-2026.
“Permintaan yang secara musiman melemah dan sikap pembeli yang cenderung berhati-hati lebih kuat menekan harga dibandingkan tingginya biaya produksi,” tulis Wendy dalam risetnya.
Tekanan tersebut terutama dipicu pola musiman pada kuartal III. Pengiriman pulp global memang meningkat 3,3 persen secara bulanan menjadi 4,62 juta ton pada Juni 2026, tetapi masih turun 6,7 persen secara tahunan.
Untuk BHK, pengiriman naik 3,9 persen secara bulanan, tetapi anjlok 12,8 persen secara tahunan. Sementara itu, pengiriman ke China relatif datar secara bulanan dan turun 6,5 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut tercermin dari persediaan BHK yang meningkat menjadi 45 hari, atau bertambah tiga hari dibandingkan bulan sebelumnya. Rasio pengiriman terhadap kapasitas juga masih 6,2 poin persentase di bawah level tahun lalu.
Menurut Wendy, kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan harga pulp lebih disebabkan oleh permintaan akhir yang lesu serta terbatasnya aktivitas restocking distributor dan pembeli akhir, bukan karena penurunan biaya produksi.
Biaya Kayu Jadi Penahan Harga
Di sisi lain, tingginya biaya woodchip masih menjadi penopang harga pulp. Harga woodchip impor China mencapai USD217 per ton pada Juni 2026, naik 19,4 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut membuat biaya kas produsen domestik tetap tinggi dan membatasi ruang untuk memangkas harga pulp secara agresif.
Namun, dukungan biaya tersebut belum cukup untuk mendorong harga kembali naik karena pembeli masih berhati-hati. Resale spread BHK bahkan masih negatif USD14 per ton pada 7 Agustus 2026.
RHB memperkirakan harga BHK menguji level USD550 per ton pada kuartal III. Meski demikian, penurunan berkelanjutan di bawah level tersebut dinilai tidak mungkin terjadi sebelum tambahan pasokan masuk, kecuali permintaan melemah lebih tajam.
OKI Phase 2 Jadi Kunci
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada ekspansi pabrik pulp dan kertas Ogan Komering Ilir (OKI) milik Asia Pulp & Paper di Sumatera Selatan.
RHB memperkirakan tambahan kapasitas sekitar 3 juta ton dari OKI Phase 2 mulai beroperasi menjelang akhir kuartal IV-2026. Tambahan pasokan tersebut berpotensi kembali menciptakan kelebihan pasokan di pasar BHK.
Bahkan sebelum beroperasi secara komersial, ekspektasi terhadap pasokan baru tersebut berpotensi membuat pembeli menunda pembelian dan menghindari penumpukan persediaan. Hal ini dapat memperpanjang siklus wait and see di pasar pulp.
Jika OKI Phase 2 beroperasi lebih cepat dari perkiraan, tekanan terhadap harga pulp akan semakin besar.
Kondisi tersebut juga dapat melemahkan price floor yang selama ini ditopang tingginya biaya produksi dan membuat pemulihan harga pada kuartal IV menjadi lebih sulit.
Dari sisi emiten, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dinilai lebih terekspos terhadap perkembangan tersebut karena memiliki sekitar 49 persen kepemilikan di OKI.
“INKP tetap menjadi pilihan utama kami di sektor ini, didukung oleh fasilitas produksi perseroan di Karawang,” tulis Wendy.
INKP mendapat katalis dari fasilitas baru di Karawang yang diperkirakan mulai dikomersialkan pada akhir kuartal III-2026.
Koreksi harga pulp lebih awal memang berpotensi menekan margin dalam jangka pendek, tetapi RHB menilai penurunan tersebut masih akan terbatas sebelum tambahan pasokan baru masuk ke pasar.
Harga Pulp Kuartal IV-2026 Bergantung OKI
RHB memperkirakan pergerakan harga BHK pada kuartal IV-2026 sangat bergantung pada waktu dimulainya operasi komersial OKI Phase 2.
Jika kapasitas baru mulai beroperasi lebih awal pada kuartal IV, harga BHK diperkirakan berada di kisaran USD535-USD545 per ton.
Sebaliknya, apabila komersialisasi baru berlangsung menjelang akhir kuartal IV, harga diperkirakan dapat bertahan di kisaran USD545-560 per ton.
Skenario kedua dinilai menyerupai kondisi kuartal IV-2025. Saat itu, harga BHK rata-rata berada di sekitar USD520 per ton pada awal Oktober dan kemudian pulih secara bertahap hingga USD562 per ton pada Desember.
Dengan demikian, peningkatan permintaan musiman pada kuartal IV diperkirakan dapat menopang volume penjualan dan sebagian mengimbangi pelemahan harga. Namun, percepatan produksi OKI akan membatasi ruang pemulihan margin.
RHB Sekuritas mengidentifikasi sejumlah risiko terhadap sektor ini, yakni percepatan atau peningkatan produksi OKI Phase 2 lebih cepat dari perkiraan, pelemahan permintaan musiman dari China, peningkatan persediaan, penurunan biaya woodchip yang memungkinkan produsen memangkas harga lebih agresif, serta volatilitas nilai tukar, suku bunga, dan regulasi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









