Harga Minyak Jatuh 7 Persen Sepekan, Ketidakpastian Selat Hormuz Membayangi

Harga Minyak Jatuh 7 Persen Sepekan, Ketidakpastian Selat Hormuz Membayangi

Ekonomi | idxchannel | Minggu, 9 Agustus 2026 - 12:54
share

IDXChannel - Harga minyak mentah ditutup menguat pada perdagangan Jumat (7/8/2026), tetapi mencatat penurunan tajam secara mingguan di tengah ketidakpastian negosiasi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global.

Harga minyak Brent berjangka ditutup naik 1,3 persen menjadi USD83,55 per barel pada Jumat. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,15 persen menjadi USD78,18 per barel.

Meski menguat pada akhir pekan, Brent diperkirakan mencatat penurunan lebih dari 8 persen sepanjang pekan ini. Sementara itu, WTI diperkirakan melemah lebih dari 7 persen.

Pergerakan harga minyak sepanjang pekan berlangsung volatil seiring pasar mencermati perkembangan negosiasi yang menentukan mekanisme pengawasan dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Harga minyak sempat anjlok pada awal pekan karena peluang penyelesaian konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) terlihat semakin terbuka. Namun, sentimen kembali berbalik setelah Iran mempertimbangkan rancangan undang-undang yang melarang kapal berbendera AS dan Israel melintas di Selat Hormuz.

Pada Kamis (6/8), harga minyak melonjak lebih dari USD3 per barel setelah kabar tersebut mencuat. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati Selat Hormuz sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu.

Pendiri perusahaan analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan sinyal terkait kemungkinan kesepakatan sepanjang pekan telah membuat sentimen pasar bergerak seperti roller coaster.

"Pasar masih mencoba menilai apakah kesepakatan Iran-Oman memungkinkan kapal berbendera AS melintasi Selat Hormuz," ujar Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow.

Pertanyaan serupa juga muncul terkait kapal milik perusahaan AS maupun kapal yang membawa muatan menuju pelabuhan AS.

Iran dan Oman disebut telah menyepakati rute yang akan digunakan kapal untuk melintasi selat yang berada di antara kedua negara tersebut. Namun, belum jelas apakah AS akan menerima ketentuan tersebut.

Ketidakpastian juga muncul terkait biaya yang harus dibayarkan kapal yang melintasi jalur tersebut.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya meminta biaya sekitar 5-7 persen dari nilai kargo. Sementara itu, Oman membahas biaya sekitar 3 persen, sedangkan Washington menginginkan tidak ada pungutan sama sekali.

Sejumlah analis menilai perkembangan sepanjang pekan juga menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan AS belum sepenuhnya berakhir.

Empat sumber industri mengatakan rancangan kesepakatan tersebut sulit diterapkan karena adanya sanksi AS dan ketentuan asuransi yang membatasi pembayaran.

Bjarne Schieldrop dari SEB Research menilai struktur kesepakatan Iran-Oman saat ini memberikan terlalu banyak pengaruh kepada Iran sehingga sulit diterima secara politik oleh Presiden AS Donald Trump.

"Selat tersebut perlu dibuka sepenuhnya," ujar Partner di Again Capital, John Kilduff.

Menurut Kilduff, ketidakpastian mengenai hasil perang dan waktu berakhirnya konflik membuat para pelaku pasar tetap sangat waspada. (Aldo Fernando)

Topik Menarik