Harga Emas Melonjak 7 persen Sepekan, Cetak Kinerja Terbaik dalam 7 Bulan
IDXChannel - Harga emas dunia melonjak lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini, mencatat kinerja mingguan terbaik dalam sekitar tujuh bulan.
Penguatan tersebut seiring data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga.
Mengacu pada data perdagangan Jumat (7/8/2026), harga emas spot naik 2,39 persen menjadi USD4.341,93 per troy ons.
Harga emas bahkan sempat melesat lebih dari 3 persen dan menyentuh level tertinggi sejak 17 Juni 2026.
Secara mingguan, harga emas telah menguat 7,34 persen, menjadi kenaikan terbesar sejak pekan yang berakhir pada 19 Januari 2026.
Lonjakan emas terjadi setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan yang jauh lebih besar dari perkiraan pasar.
Melansir dari Reuters, nonfarm payrolls (NFP) AS justru turun 23.000 pekerjaan pada Juli 2026, setelah pada Juni direvisi mencatat kenaikan 20.000 pekerjaan.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan nonfarm payrolls bertambah 80.000 pekerjaan.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, mengatakan data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan membuat The Fed semakin kecil kemungkinan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
"Data pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan menghadirkan skenario di mana The Fed akan lebih kecil kemungkinannya menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya," ujar Meger.
Menurut dia, penurunan harga energi serta berkurangnya peluang kenaikan suku bunga AS dapat menekan dolar AS dan menjadi katalis positif bagi harga emas.
Pasar futures suku bunga kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 43,9 persen, turun dari 57 persen sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Sementara itu, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September meningkat menjadi 56,1 persen dari 43,2 persen.
Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga menjadi relatif lebih menarik dibandingkan aset berbasis yield ketika suku bunga turun.
Penguatan emas juga mendapat dukungan dari prospek harga yang masih bullish. UBS memperkirakan harga emas dapat mencapai USD5.000 per troy ons pada paruh pertama 2027.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik masih menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan dirinya meyakini perang dengan Iran akan segera berakhir. (Aldo Fernando)










