BPDP: Industri Sawit Jadi Tumpuan Hidup 16 Juta Lebih Masyarakat Indonesia

BPDP: Industri Sawit Jadi Tumpuan Hidup 16 Juta Lebih Masyarakat Indonesia

Terkini | idxchannel | Senin, 20 Juli 2026 - 14:34
share

IDXChannel - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) megatakan sektor kelapa sawit memegang peranan krusial bagi perekonomian nasional. Selain menjadi instrumen pembangunan dan penyumbang devisa, industri ini menjadi sumber penghidupan utama bagi jutaan masyarakat.

Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, menyebutkan kontribusi sektor ini meluas di sepanjang rantai nilai industri. 

"Sawit bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan sebagai salah satu instrumen pembangunan nasional. Sawit berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan energi, mendukung pembangunan industri hilir, menjadi sumber penerimaan devisa, serta menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 16 juta rakyat Indonesia yang terlibat di sepanjang rantai nilai industri sawit," ujar Eddy dalam acara Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).

Besarnya ketergantungan masyarakat terhadap sektor ini juga terlihat dari struktur kepemilikan lahan perkebunan. Saat ini, sekitar 41 persen luas perkebunan sawit di Indonesia dikelola langsung petani atau pekebun rakyat, sehingga masa depan industri ini sangat bergantung pada kesejahteraan mereka.

Menurut Eddy, keunggulan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia tidak boleh membuat industri berpuas diri. Transformasi berbasis inovasi dan teknologi menjadi kunci utama dalam menghadapi tuntutan global seperti perubahan iklim dan ekonomi sirkular.

"Kami meyakini bahwa sektor kelapa sawit memiliki posisi yang sangat strategis di dalam mewujudkan agenda pembangunan nasional. Kami meyakini bahwa riset bukan sekadar biaya, melainkan investasi strategis bangsa," kata dia.

BPDP, kata Eddy, mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan Precision Agriculture, mekanisasi, hingga penggunaan benih unggul. Langkah ini diambil agar petani dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan tanpa perlu melakukan ekspansi lahan yang berisiko mengganggu ekosistem lingkungan.

Eddy menambahkan soal tantangan ke depan tidak lagi diukur dari seberapa luas lahan, melainkan dari kemampuan menghasilkan nilai tambah. 

"Ke depan keberhasilan industri sawit Indonesia tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas lahan yang kita miliki. Keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuan kita untuk meningkatkan produktivitas dan di sinilah tantangan terbesar kita," tutur Eddy.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik