IHSG Reli 4 Hari usai S&P Pertahankan Rating Indonesia, Intip Outlook Terbaru
IDXChannel – Prospek pasar saham Indonesia dinilai mulai membaik seiring meredanya sejumlah risiko yang sempat membebani sentimen investor.
Valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini juga dianggap sudah terlalu murah, sehingga membuka peluang kenaikan lebih lanjut hingga akhir tahun.
Dalam riset terbarunya, pada Selasa (14/7/2026), BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan target IHSG di level 7.200 hingga akhir 2026.
Target tersebut didasarkan pada asumsi price-to-earnings (P/E) forward sebesar 10,0 kali dan pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) sebesar 8 persen pada 2027.
BRI Danareksa menilai IHSG saat ini diperdagangkan pada P/E sekitar 9,1 kali atau 2,6 standar deviasi di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 14,8 kali.
Menurut analis, valuasi tersebut mencerminkan ekspektasi yang terlalu pesimistis karena pasar seolah telah memperhitungkan (price-in) skenario penurunan peringkat (bear rating) serta pertumbuhan laba yang negatif.
Padahal, sejumlah risiko yang sebelumnya membayangi mulai mereda.
Sekuritas itu menyoroti keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook Stabil pada Senin (13/7), serta keputusan MSCI yang tetap menempatkan Indonesia dalam kelompok Emerging Markets, kendati keputusan final akan dilakukan pada November mendatang.
Bahkan, apabila pertumbuhan EPS sebesar 8 persen benar-benar terealisasi sementara valuasi tetap bertahan di level P/E 9,1 kali, IHSG diperkirakan masih berpotensi mencapai sekitar level 6.520.
Kondisi tersebut menunjukkan potensi kenaikan sekitar 8 persen dari level saat ini, sehingga profil risk-reward dinilai masih menarik bagi investor.
Dari sisi strategi investasi, BRI Danareksa tetap mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor perbankan, telekomunikasi, logam, dan batu bara.
Sekuritas ini juga menilai investor memiliki ruang untuk meningkatkan eksposur pada saham-saham dengan beta lebih tinggi.
Saham unggulan (top picks) yang direkomendasikan meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Indosat Tbk (ISAT), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Meski demikian, BRI Danareksa mengingatkan sejumlah faktor yang masih perlu dicermati.
Rasio interest-to-revenue Indonesia yang masih berada di atas 15 persen dinilai dapat menjadi pemicu penurunan peringkat oleh S&P apabila tidak membaik.
Selain itu, tinjauan MSCI pada November 2026, potensi eskalasi konflik geopolitik, serta lonjakan harga minyak juga menjadi risiko utama bagi pasar.
Sementara itu, menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat 0,72 persen ke level 6.081 pada pukul 14.06 WIB, Selasa (14/7/2026). Nilai transaksi tercatat mencapai Rp11,72 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 20,83 miliar saham.
Penguatan tersebut memperpanjang reli IHSG menjadi empat hari berturut-turut. Sejak awal Juli, indeks hanya mencatat satu kali pelemahan, menandakan mulai meredanya tekanan jual yang sempat mendominasi pasar sejak awal 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









