IHSG Mulai Bangkit, Simak Strategi Jelang Keputusan MSCI

IHSG Mulai Bangkit, Simak Strategi Jelang Keputusan MSCI

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 18 Juni 2026 - 07:04
share

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit tajam setelah sempat tertekan ke level terendah dalam enam tahun.

Analis menilai pemulihan tersebut tidak hanya ditopang faktor teknikal, tetapi juga perubahan sikap pemerintah yang mulai lebih pragmatis dalam merespons kekhawatiran pasar.

IHSG telah rebound dari posisi terendah dalam enam tahun di 5.342 pada 8 Juni 2026 menjadi 6.220,74 pada 17 Juni 2026 atau melonjak 16,45 persen dalam waktu singkat.

Berdasarkan riset analis UOB Kay Hian Indonesia yang terbit 15 Juni 2026, penguatan tersebut terutama dipicu membaiknya sentimen investor setelah pemerintah menunjukkan kesediaan untuk mengevaluasi sejumlah kebijakan yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku pasar.

"Pemulihan IHSG didorong oleh meningkatnya keyakinan investor bahwa pemerintah lebih terbuka terhadap masukan pasar dan bersedia melakukan penyesuaian kebijakan," tulis analis UOB Kay Hian dalam risetnya.

Salah satu faktor utama yang mengangkat kepercayaan pasar adalah langkah pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin secara di luar jadwal normal.

Langkah tersebut membuat total kenaikan suku bunga mencapai 75 basis poin dalam tiga pekan dan menjadi kebijakan darurat pertama dalam delapan tahun terakhir.

Menurut UOB Kay Hian, langkah tersebut memberikan sinyal kuat bahwa BI berkomitmen menjaga stabilitas rupiah.

Selain itu, ekspektasi bahwa Kementerian Keuangan akan memberikan ruang lebih besar bagi imbal hasil surat utang pemerintah untuk bergerak mengikuti mekanisme pasar juga dinilai positif.

Dari sisi fiskal, pemerintah mulai menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati. Anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tahun fiskal 2026 dikurangi dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun, sementara target peluncuran program Koperasi Desa Merah Putih dipangkas menjadi 40.000 lokasi dari rencana sebelumnya.

Kebijakan tersebut dinilai dapat meredakan kekhawatiran investor terhadap ekspansi fiskal yang terlalu agresif.

Selain itu, keputusan Pertamina menaikkan harga Pertamax sebesar 32 persen juga dianggap sebagai sinyal pergeseran menuju mekanisme harga energi yang lebih berbasis pasar.

Meski berpotensi memberikan tekanan inflasi, kebijakan tersebut dinilai mencerminkan upaya memperkuat disiplin fiskal.

Sektor Komoditas Mendapat Kepastian

Sentimen positif juga datang dari sektor komoditas. UOB Kay Hian menyebut pemerintah mulai memberikan kejelasan mengenai sejumlah kebijakan yang sebelumnya menjadi sumber ketidakpastian bagi perusahaan tambang dan eksportir.

Danantara menegaskan hanya akan memantau harga ekspor, bukan bertindak sebagai perantara perdagangan langsung.

Pemerintah juga membuka kemungkinan meninjau kembali kewajiban konversi 50 persen devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) ke rupiah setelah melihat dampak implementasinya.

Selain itu, pemerintah memberi sinyal fleksibilitas terhadap kuota produksi tambang apabila harga komoditas tetap mendukung. Pemerintah juga memastikan tidak akan menerapkan skema gross split untuk sektor mineral dan batu bara.

Harapan Dukungan Investor Domestik

Potensi pembelian kembali (buyback) saham perusahaan negara (BUMN) turut menjadi katalis tambahan bagi pasar saham.

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad telah mempertemukan bank BUMN, BPJS, perusahaan asuransi negara, serta Danantara untuk membahas kemungkinan program buyback saham BUMN.

Meski detail pelaksanaan masih belum jelas, pembahasan tersebut memperkuat ekspektasi adanya dukungan investor domestik terhadap pasar modal.

Di sisi eksternal, meredanya ketegangan geopolitik dan penurunan harga minyak dunia juga membantu memperbaiki sentimen. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi, tekanan fiskal, serta neraca eksternal Indonesia.

Sementara itu, Danantara dilaporkan berhasil menghimpun dana USD1,5 miliar melalui penerbitan obligasi internasional perdana. Transaksi tersebut disebut menarik permintaan investor hingga lebih dari USD4,6 miliar.

Dana tersebut akan menjadi tambahan modal jangka panjang untuk mendukung aktivitas investasi Danantara. Namun, investor masih akan mencermati bagaimana dana tersebut dialokasikan serta perkembangan tata kelola dan strategi investasi lembaga tersebut.

MSCI Jadi Ujian Berikutnya

Menurut UOB Kay Hian, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada hasil evaluasi MSCI terhadap aksesibilitas pasar Indonesia pada 24 Juni 2026.

Analis UOB memperkirakan Indonesia masih akan mempertahankan status sebagai pasar berkembang (emerging market), meski MSCI kemungkinan tetap mempertahankan sejumlah pembatasan sambil memantau reformasi akses pasar.

Sejak peringatan MSCI pada Januari 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan sejumlah perbaikan, termasuk menurunkan batas pengungkapan kepemilikan saham menjadi 1 persen, memperluas klasifikasi investor dari sembilan menjadi 39 kategori, serta menyusun peta jalan peningkatan batas minimum free float menjadi 15 persen pada 2029.

"Review yang positif dapat menjadi katalis jangka pendek bagi masuknya kembali investor asing dan memberikan ruang penguatan lebih lanjut bagi pasar," ujar analis UOB Kay Hian.

Meski demikian, UOB Kay Hian menilai kenaikan IHSG saat ini masih tergolong sebagai relief rally atau reli pemulihan setelah tekanan besar, bukan sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental jangka panjang.

IHSG saat ini diperdagangkan dengan valuasi murah, sekitar 8 kali forward price to earnings (PE). Level 5.350 dipandang sebagai titik dasar siklus penurunan, sementara secara teknikal IHSG berpotensi menguji area resistance 6.700-6.800.

Karena itu, investor disarankan tetap selektif dan memanfaatkan pelemahan harga untuk akumulasi, bukan mengejar kenaikan.

Saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat dinilai menjadi pilihan utama di tengah proses pemulihan pasar.

Menurut UOB, sentimen yang lebih konstruktif baru akan terbentuk apabila terdapat konfirmasi positif dari hasil review MSCI, realisasi dukungan investor domestik, stabilisasi cadangan devisa dan imbal hasil obligasi, serta konsistensi pemerintah dalam merespons masukan pasar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik