Surya Semesta (SSIA) Berpotensi Diuntungkan dari Gelombang EV Indonesia

Surya Semesta (SSIA) Berpotensi Diuntungkan dari Gelombang EV Indonesia

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 18 Juni 2026 - 10:14
share

IDXChannel – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dinilai memiliki posisi yang kuat untuk menangkap peluang dari berkembangnya industri manufaktur kendaraan listrik (EV) di Indonesia melalui kawasan industri Subang yang dikelolanya.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim dalam risetnya menyebut, permintaan lahan industri di Subang berpotensi kembali meningkat seiring dengan masuknya investasi terkait rantai pasok kendaraan listrik.

Perseroan menargetkan penjualan lahan industri mencapai 135 hektare pada 2026, meningkat signifikan dibandingkan 47 hektare pada 2025.

Selain segmen kawasan industri, kinerja bisnis perhotelan Surya Semesta Internusa juga diperkirakan mulai berbalik arah pada tahun ini. Pemulihan tersebut didorong oleh kembali beroperasinya resor Paradisus by Meliá Bali pada Februari 2026.

Maybank Sekuritas kembali memberikan rekomendasi beli terhadap saham Surya Semesta Internusa dengan target harga Rp1.850 per unit. Target tersebut meningkat dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar Rp1.500 per unit.

Di pasar reguler, pada Kamis (18/6/2026), pukul 09.58 WIB, saham SSIA diperdagangkan di level Rp1.645 per unit, terkoreksi tipis 1,79 persen sepanjang 2026.

Sebelumnya, SSIA meraup laba bersih Rp89 miliar hingga kuartal III-2026.

Laba tersebut ditopang oleh pendapatan konsolidasian sebesar Rp1,44 triliun atau tumbuh 35 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,07 triliun.

Dalam keterbukaan informasi BEI, pada 11 Mei 2026, segmen properti masih menjadi penopang utama pendapatan dengan melonjak 202,1 persen menjadi Rp494,9 miliar.

Lalu segmen perhotelan juga naik 59,2 persen menjadi Rp162,5 miliar. Sementara itu, segmen konstruksi tumbuh melambat di angka Rp835,5 miliar imbas periode libur Idulfitri yang memperlambat aktivitas proyek.

Seiring dengan pertumbuhan pendapatan, laba kotor SSIA juga naik signifikan sebesar 125,1 persen menjadi Rp451,9 miliar hingga Maret 2026.

EBITDA perseroan mencapai Rp271,8 miliar atau tumbuh 649 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Namun, posisi kas perseroan turun 19,9 persen menjadi sebesar Rp1,14 triliun dari Rp1,42 triliun disebabkan oleh pembayaran bunga renovasi Paradisus by Meliá Bali serta biaya pengembangan lahan.

Hingga kuartal I-2026, anak usaha PT Suryacipta Swadaya (SCS) mencatat penjualan pemasaran lahan industri 8,2 hektare dengan nilai Rp169,1 miliar dari kawasan Suryacipta Karawang dan Subang Smartpolitan, meningkat 105 persen dibandingkan 4 hektare Rp88 miliar pada kuartal I-2025.

Backlog penjualan lahan SCS tercatat sebesar Rp727,4 miliar yang merepresentasikan 46,3 hektare lahan. Dari jumlah tersebut, seluas 35,6 hektare telah dibukukan pada April 2026 dengan nilai mencapai Rp524,1 miliar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik