Imbas Perang Iran-AS, Industri Penerbangan Global Pangkas Proyeksi Laba Nyaris 50 Persen

Imbas Perang Iran-AS, Industri Penerbangan Global Pangkas Proyeksi Laba Nyaris 50 Persen

Terkini | idxchannel | Senin, 8 Juni 2026 - 12:44
share

IDXChannel—The International Air Transport Association (IATA) memangkas proyeksi perolehan laba sepanjang 2026, dengan besaran nyaris separuh dari proyeksi awal dan realisasi laba pada tahun lalu. 

Pemangkasan proyeksi ini disebabkan oleh dampak perang antara Iran dan Amerika Serikat yang hingga saat ini masih sangat terasa di industri penerbangan. Lonjakan tinggi harga avtur membuat maskapai beroperasi dengan margin keuntungan yang tipis. 

Melansir Reuters (8/6/2026), asosiasi yang menaungi 370 maskapai dunia dengan pangsa 85 persen dari total industri penerbangan dunia ini diproyeksikan akan mengantongi laba bersih sekitar USD23 miliar sepanjang 2026. 

Angka tersebut jauh di bawah proyeksi awal yang dipatok sebesar USD41 miliar dan lebih rendah lagi bila dibandingkan dengan realisasi laba bersih pada 2025 yang tercatat mencapai USD45 miliar. 

Penurunan laba bersih yang diproyeksikan ini menunjukkan kerentanan industri penerbangan terhadap konflik geopolitik yang mengakibatkan ketersediaan avtur volatil, meskipun tingkat permintaan konsumen masih normal. 

“Ada dua faktor utama. Pertama, kenaikan harga avtur yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan banyak orang. Lalu hambatan pada maskapai di wilayah Semenanjung Arab. Jadi kombinasi kedua faktor ini membuat kami memangkas proyeksi,” tutur Direktur Umum IATA Willie Walsh. 

Walsh bahkan mengekspektasikan sejumlah maskapai kecil bakal bangkrut atau diambil alih oleh maskapai besar sepanjang tahun-tahun. Salah satu maskapai kecil yang akhirnya tumbang karena perang Iran-AS adalah Spirit Airlines. 

Selain itu maskapai juga diperkirakan bakal menghapus rute-rute yang kurang menguntungkan untuk mempertahankan margin keuntungan. Apalagi, biaya operasional yang sudah naik sejak perang dimulai tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. 

Pemangkasan rute ini telah dilakukan oleh Lufthansa Group, yang memangkas 20.000 rute penerbangan jarak pendek yang kurang menguntungkan. Dari pemangkasan rute ini, Lufthansa menghemat 40.000 ton avtur. 

Selain itu, peperangan yang tak kunjung selesai membuat maskapai terpaksa mengalihkan rute penerbangan. Sehingga, durasi dan jarak penerbangan pun bertambah, meningkatkan konsumsi bahan bakar dalam kondisi operasional yang sudah serba mahal. 

Maskapai asal Semenanjung Arab seperti Qatar Airways, Emirates, dan Etihad, menghadapi ketidakpastian oerasional terparah setelah wilayah udara setempat ditutup total pada awal peperangan. 

Walsh mengatakan maskapai Semenangjung Arab sangat mungkin mencatatkan rugi karena imbas perang dan permintaan yang melemah. 

Lebih lanjut, IATA memperkirakan biaya avtur seluruh maskapai dalam naungan asosiasi dapat mencapai kisaran USD350 miliar sepanjang tahun ini, naik cukup drastis dari biaya avtur pada 2025 yang hanya USD252 miliar. 


(Nadya Kurnia)

Topik Menarik