Pakar ITB: Faktor Cuaca Sangat Mungkin Berperan dalam Peristiwa Blackout Sumatera

Pakar ITB: Faktor Cuaca Sangat Mungkin Berperan dalam Peristiwa Blackout Sumatera

Terkini | idxchannel | Sabtu, 30 Mei 2026 - 04:24
share

IDXChannel - Pemadaman listrik massal atau blackout di Sumatera dinilai sangat mungkin dipicu tekanan mekanis akibat angin kencang pada jaringan transmisi, terutama di titik sambungan kabel atau mid span jointing.

Pengamat Sistem Tenaga Listrik Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Darwanto menilai faktor cuaca memiliki peran besar dalam peristiwa tersebut, mengingat karakteristik gangguan yang terjadi mengarah pada tekanan mekanis di area sambungan konduktor transmisi.

“Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini,” ujarnya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Sebelumnya, hasil investigasi awal gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN menyebut terdapat tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi, yakni stress thermal akibat cuaca, faktor pada area sambungan, serta tekanan mekanis akibat beban dan pengaruh angin.

Menurut dia, masyarakat kerap menilai kondisi cuaca dari apa yang dirasakan di permukaan tanah. Padahal, pada ketinggian konduktor transmisi, kecepatan angin dapat jauh lebih besar dan memicu osilasi kabel secara terus-menerus.

“Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel,” katanya.

Dia menjelaskan, pergerakan berulang akibat terpaan angin dapat menambah tekanan pada area sambungan kabel, terutama ketika sistem sedang menerima beban tinggi.

Terlebih, titik yang mengalami putus diketahui berada pada area mid span jointing atau sambungan di tengah bentangan kabel transmisi. Area tersebut merupakan lokasi penyatuan dua konduktor yang disambung menggunakan metode dan pelindung khusus.

Menurutnya, titik sambungan memang menjadi salah satu area yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi karena menerima kombinasi pengaruh getaran, perubahan temperatur, serta distribusi tekanan ketika kabel bergerak akibat angin.

“Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi,” ujarnya.

Dia juga menilai hasil inspeksi thermal sebelumnya yang menunjukkan kondisi kabel masih normal tidak otomatis bertentangan dengan terjadinya blackout.

Sebab, gangguan akibat kombinasi cuaca, getaran, dan tekanan mekanis tidak selalu memunculkan indikasi awal yang mudah terdeteksi, termasuk melalui inspeksi thermal rutin menggunakan drone.

“Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” katanya.

Dalam konferensi pers investigasi, aparat turut memperlihatkan potongan kabel yang menjadi sampel barang bukti untuk pengujian laboratorium. Sampel tersebut diambil dari titik kabel yang mengalami kerusakan untuk dianalisis lebih lanjut, karena pengujian laboratorium dilakukan terhadap bagian kabel yang mengalami gangguan.

Menurut Djoko, dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatera, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat dengan cepat berkembang menjadi gangguan berantai.

Hal itu terjadi karena pembangkit listrik secara otomatis akan melepaskan diri dari sistem ketika frekuensi jaringan turun drastis untuk melindungi peralatan.

“Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai,” ujarnya.

Menurutnya, mekanisme proteksi tersebut merupakan standar dalam sistem ketenagalistrikan untuk menjaga peralatan pembangkit dan jaringan dari risiko kerusakan yang lebih besar.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik