Wall Street Dibuka Variatif Usai Inflasi Produsen AS Melonjak
IDXChannel - Wall Street dibuka variatif pada perdagangan Rabu (13/5/2026) waktu setempat setelah data inflasi AS tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Melansir Investing, indeks S&P 500 bergerak relatif stagnan di level 7.399,01. Indeks Nasdaq Composite menguat 0,3 persen menjadi 26.159,47, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,5 persen ke posisi 49.537,76.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati dampak lonjakan inflasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tengah kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah.
Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat pada April naik 1,4 persen secara bulanan, menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret 2022.
Secara tahunan, inflasi produsen melonjak 6 persen, tertinggi sejak Desember 2022 dan jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 4,9 persen.
Sementara itu, inflasi inti produsen yang tidak memasukkan komponen makanan, energi, dan perdagangan naik 0,6 persen secara bulanan dan 4,4 persen secara tahunan, juga melampaui proyeksi analis.
Data tersebut muncul sehari setelah laporan inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) menunjukkan tekanan harga yang dipicu lonjakan harga energi akibat perang Iran.
Presiden dan Chief Investment Officer Bellwether Wealth, Clark Bellin menilai, kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel mulai memberikan dampak luas terhadap biaya produksi.
"Produsen mulai merasakan efek rambatan dari minyak di level USD100 per barel yang meningkatkan biaya produksi secara luas karena energi merupakan salah satu komponen biaya paling penting," ujarnya.
Bellin menambahkan, The Fed kini menghadapi tantangan besar karena inflasi tetap tinggi di saat pasar tenaga kerja mulai melambat. Situasi tersebut dinilai semakin kompleks menjelang pergantian pimpinan bank sentral AS.
Senat AS dijadwalkan melakukan voting konfirmasi terhadap Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru menggantikan Jerome Powell.
Masa jabatan Powell akan berakhir pada Jumat pekan ini. Sebelumnya, Senat AS telah menyetujui pencalonan Warsh sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed dengan hasil voting 51 banding 45.
Warsh merupakan kandidat pilihan Presiden Donald Trump yang selama ini terus mendesak The Fed memangkas suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi.
Namun, dengan tekanan inflasi yang masih tinggi akibat lonjakan harga minyak, pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.
(DESI ANGRIANI)








