Industri Pengolahan Topang Surplus Neraca Perdagangan RI di Kuartal I-2026

Industri Pengolahan Topang Surplus Neraca Perdagangan RI di Kuartal I-2026

Terkini | idxchannel | Kamis, 7 Mei 2026 - 16:50
share

IDXChannel - Neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif Januari–Maret 2026, mencatatkan surplus USD5,55 miliar. Surplus tersebut terdiri atas surplus nonmigas sebesar USD10,63 miliar dan defisit migas sebesar USD5,08 miliar. 

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan industri pengolahan masih menjadi motor ekspor pada periode Januari—Maret 2026. Industri pengolahan juga mendominasi struktur pangsa total ekspor di periode tersebut sebesar 82,25 persen. 

“Sepanjang tiga bulan pertama 2026, pertumbuhan ekspor didorong kinerja sektor industri pengolahan naik 3,96 persen (CtC) atau menjadi USD54,98 miliar dibandingkan periode Januari—Maret 2025 yang sebesar USD52,89 miliar,” kata Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (7/5/2026).

Ekspor dengan kenaikan tertinggi terjadi pada nikel dan barang daripadanya (HS 75) yang melonjak 60,60 persen, timah dan barang daripadanya (HS 80) 49,09 persen, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 40,97 persen, bahan kimia organik (HS 29) 21,44 persen, dan bahan kimia anorganik (HS 28) 14,46 persen (CtC).

Menurut Budi, peningkatan ini dipengaruhi tren harga global dan permintaan dari mitra dagang. Namun demikian, kinerja ekspor sektor pertanian turun 32,18 persen dan sektor pertambangan dan lainnya turun 11,17 persen (CtC). Kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas sektor pertanian dengan penurunan ekspor terdalam sebesar 40,15 persen.

Dari sisi tujuan ekspornya, ekspor nonmigas Indonesia pada Januari–Maret 2026 menunjukkan pertumbuhan yang kuat di sejumlah pasar. Lonjakan ekspor tertinggi tercatat ke Spanyol sebesar 38,86 persen (CtC), diikuti Mesir 25,43 persen, China 17,49 persen, Thailand 13,58 persen, serta Belanda 11,37 persen. Selain itu, ekspor ke kawasan nontradisional seperti Asia Tengah lainnya, Afrika Utara, Asia Timur, Amerika Selatan lainnya, dan Afrika Barat mencatatkan kinerja positif. 

Secara kumulatif, impor Indonesia Januari–Maret 2026 mencapai USD61,30 miliar, naik 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Pertumbuhan ini terutama ditopang impor nonmigas yang naik 12,16 persen, sementara impor migas terkontraksi sebesar 1,72 persen.

Sementara itu, berdasarkan golongan penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan. Kenaikan tertinggi dicatatkan barang modal sebesar 24,02 persen, diikuti bahan baku dan penolong 6,89 persen serta barang konsumsi 6,12 persen (CtC). Peningkatan impor barang modal ini didorong antara lain, oleh permintaan terhadap komoditas strategis seperti telepon pintar, komputer, serta pesawat terbang.

Dari sisi komoditas, lonjakan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) sebesar 546,55 persen (CtC). Selain itu, impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh 71,95 persen; diikuti bijih logam, terak dan abu (HS 26) sebesar 60,64 persen; serta logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) naik 44,71 persen. Kenaikan juga terjadi pada berbagai produk kimia (HS 38) yang tumbuh 36,31 persen.

Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi dari China, Australia, dan Jepang dengan kontribusi gabungan mencapai 52,97 persen. Namun demikian, pertumbuhan impor tertinggi tercatat dari beberapa negara nontradisional, antara lain, Meksiko yang meningkat 383,37 persen, Spanyol 177,70 persen, serta Oman 138,90 persen (CtC) yang menunjukkan semakin beragamnya sumber pasokan impor Indonesia.

Budi menegaskan, pemerintah menjaga momentum kinerja perdagangan dengan terus memperkuat ketahanan sektor domestik.

 “Kami akan terus memperluas pasar dengan tetap menjaga stabilitas industri dalam negeri serta memastikan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika global,” kata dia.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik