Harga Minyak Merosot usai Sentuh Level Tertinggi 4 Tahun

Harga Minyak Merosot usai Sentuh Level Tertinggi 4 Tahun

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 1 Mei 2026 - 07:54
share

IDXChannel - Harga minyak global melemah setelah sempat menyentuh level tertinggi empat tahun di atas USD126 per barel pada Kamis (30/4/2026), di tengah kekhawatiran perang Amerika Serikat (AS)-Iran dapat memicu gangguan pasokan berkepanjangan di Timur Tengah yang berisiko menekan ekonomi global lebih dalam.

Pasar minyak berada dalam periode volatilitas tinggi sejak konflik di Timur Tengah pecah pada akhir Februari.

Minyak acuan global Brent sempat naik hingga USD126,41 per barel, level tertinggi sejak 9 Maret 2022, namun akhirnya ditutup turun 3,41 persen ke USD114,01.

Kontrak pengiriman Juni berakhir pada Kamis, sementara kontrak Juli yang lebih aktif ditutup naik 0,4 persen ke USD110,88.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun atau 1,69 persen ke USD105,07, setelah sempat menyentuh USD110,93, level tertinggi sejak 7 April.

Meski demikian, kedua acuan masih berada di jalur kenaikan bulanan keempat berturut-turut, mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik Iran dapat menekan pasokan minyak global selama berbulan-bulan.

Penurunan harga dari level tertinggi intraday tidak memiliki pemicu yang jelas.

Analis PVM, Tamas Varga, mengatakan pelemahan tersebut tidak terkait dengan perkembangan spesifik, melainkan mencerminkan volatilitas tinggi sejak perang Iran dimulai.

Data LSEG menunjukkan adanya dua order jual besar untuk Brent kontrak Juni pada awal sesi. Sejumlah analis juga menilai harga cenderung bergejolak menjelang jatuh tempo kontrak.

Analis SEB Research, Ole Hvalbye, mengatakan pergerakan harga sangat ekstrem.

"Pergerakannya sangat besar, bahkan dalam satu hari bisa setara dengan pergerakan bulanan. Ini kacau. Sangat sulit membentuk pandangan fundamental," ujarnya.

Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menambahkan pasar mulai menyadari kemungkinan terjadi reaksi berlebihan pada hari sebelumnya, dengan hedge fund melepas posisi untuk mengunci keuntungan di akhir bulan.

Sebagian analis juga mencatat pelemahan dolar AS turut menekan harga minyak pada Kamis.

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan terkait rencana serangan militer baru terhadap Iran guna memaksa negosiasi penghentian konflik, menurut seorang pejabat AS kepada Reuters.

Iran menyatakan akan membalas dengan "serangan panjang dan menyakitkan" terhadap posisi AS jika Washington kembali melancarkan serangan, serta menegaskan kembali kendalinya atas Selat Hormuz, yang memperumit rencana AS membentuk koalisi untuk membuka kembali jalur tersebut.

Harga Brent telah melonjak dua kali lipat sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, sementara WTI naik sekitar 90 persen akibat penutupan efektif Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Kenaikan harga minyak ini berisiko memicu lonjakan kembali inflasi global serta kenaikan harga bahan bakar di AS menjelang pemilu paruh waktu akhir tahun ini.

Minyak, gas, dan produk turunannya merupakan komponen vital bagi transportasi, energi rumah tangga dan industri, serta produksi plastik dan pupuk.

Trump sebelumnya menyerukan gencatan senjata awal bulan ini, namun juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Perundingan untuk mengakhiri konflik, yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu gangguan pasokan minyak terbesar di dunia menurut International Energy Agency, masih menemui jalan buntu.

AS bersikeras membahas dugaan program senjata nuklir Iran, sementara Iran menuntut kendali atas selat serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengatakan prospek penyelesaian konflik dalam waktu dekat maupun pembukaan kembali Selat Hormuz masih suram. (Aldo Fernando)

Topik Menarik