UEA Putuskan Keluar dari OPEC, Pukulan Besar untuk Energi Global

UEA Putuskan Keluar dari OPEC, Pukulan Besar untuk Energi Global

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 29 April 2026 - 07:14
share

IDXChannel - Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keputusannya untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ guna fokus pada kepentingan nasional. Hal ini memberikan pukulan besar bagi kelompok negara pengekspor minyak tersebut di saat perang AS-Iran memicu guncangan energi dan menggoyahkan ekonomi global.

Melansir Al Jazeera, Rabu (29/4/2026), langkah ini, yang akan mulai berlaku pada Jumat mendatang atau 1 Mei 2026, disebut mencerminkan visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA serta profil energi yang terus berkembang.

“Selama keanggotaan kami di organisasi ini, kami telah memberikan kontribusi besar dan bahkan pengorbanan yang lebih besar demi kepentingan bersama. Namun, kini saatnya kami memfokuskan upaya pada apa yang menjadi kepentingan nasional kami,” demikian bunyi pernyataan resmi pemerintah UEA.

Keluarnya UEA, yang merupakan anggota lama OPEC, berpotensi menimbulkan kekacauan dan melemahkan kartel minyak tersebut, yang selama ini berupaya menunjukkan keompakan meski terdapat perbedaan internal terkait berbagai isu, mulai dari geopolitik hingga kuota produksi.

Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, mengatakan keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan secara matang strategi energi negara tersebut. Saat ditanya apakah UEA berkonsultasi dengan pemain utama OPEC, Arab Saudi, dia menyatakan bahwa UEA tidak membahas hal ini dengan negara lain.

“Ini adalah keputusan kebijakan. Diambil setelah peninjauan mendalam terhadap kebijakan saat ini dan masa depan terkait tingkat produksi,” ujar menteri tersebut kepada Reuters.

Para produsen Teluk di OPEC sendiri sudah menghadapi kesulitan menyalurkan ekspor melalui Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia, akibat ancaman dan serangan terhadap kapal selama perang berlangsung.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menuduh OPEC “memeras dunia” dengan menaikkan harga minyak.

Trump juga mengaitkan dukungan militer AS untuk negara-negara Teluk dengan harga minyak, dengan mengatakan bahwa sementara AS melindungi anggota OPEC, mereka memanfaatkan hal ini dengan menetapkan harga minyak yang tinggi.

UEA pertama kali menjadi anggota OPEC melalui emirat Abu Dhabi pada 1967, dan kemudian sebagai negara setelah terbentuk pada 1971.

Kartel minyak yang berbasis di Wina ini telah mengalami penurunan pengaruh pasar dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya produksi minyak mentah oleh AS.

Selain itu, UEA dan Arab Saudi semakin bersaing dalam isu ekonomi dan politik regional, khususnya di kawasan Laut Merah.

Kedua negara sebelumnya tergabung dalam koalisi untuk melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman sejak 2015. Namun, koalisi tersebut retak pada akhir Desember ketika Arab Saudi menyerang target yang mereka klaim sebagai pengiriman senjata untuk kelompok separatis Yaman yang didukung UEA.

Perusahaan riset energi Rystad Energy menyatakan bahwa keluarnya UEA merupakan perubahan signifikan bagi kelompok produsen minyak tersebut.

“Kehilangan anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari, serta ambisi untuk meningkatkan produksi, berarti menghilangkan salah satu alat penting dari tangan kelompok ini,” ujar kepala analisis geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon.

Arab Saudi kini harus memikul lebih banyak beban dalam menjaga stabilitas harga, dan pasar kehilangan salah satu penyangga guncangan yang tersisa.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik