Saham Minimarket Masih Menarik, Dua Emiten Ini Dinilai Layak Disimak

Saham Minimarket Masih Menarik, Dua Emiten Ini Dinilai Layak Disimak

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 29 April 2026 - 07:14
share

IDXChannel - Model bisnis waralaba minimarket di Indonesia dinilai masih menawarkan peluang investasi yang menarik, meski di tengah kekhawatiran perlambatan konsumsi serta sentimen terkait program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Riset analis Bahana Sekuritas Reinard Tanukusuma yang terbit pada 27 April 2026 mengungkap, pelaku usaha tetap melihat peluang ekspansi selama lokasi gerai dinilai potensial.

Reinard menjelaskan, kajian dilakukan melalui wawancara langsung dengan mitra waralaba sejumlah pemain utama seperti pengelola Alfamart (AMRT), Indomaret (DNET), serta Alfamidi (MIDI).

Hasilnya menunjukkan, format compact supermarket yang diusung Alfamidi menawarkan profitabilitas lebih tinggi dibanding minimarket konvensional.

Dalam riset tersebut, Alfamidi mampu mencatat margin laba kas sekitar 4,7 persen, sedikit di atas minimarket yang berada di kisaran 4,5 persen. Namun, perbedaan mencolok terlihat dari sisi pendapatan.

Gerai compact supermarket menghasilkan omzet bulanan sekitar Rp866 juta, jauh lebih tinggi dibanding minimarket yang berada di kisaran Rp320 juta.

“Secara absolut, gerai compact supermarket mampu memberikan laba kas Rp30 juta hingga Rp45 juta per bulan kepada mitra, dibandingkan Rp6 juta hingga Rp20 juta pada minimarket,” tulis Reinard dalam laporannya.

Ia menambahkan, keunggulan tersebut didorong oleh ukuran keranjang belanja yang lebih besar, variasi produk yang lebih luas, serta efisiensi operasional dari skala pendapatan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Bahana menilai risiko kanibalisasi pada jaringan Alfamart relatif terbatas. Reinard menyebut, perusahaan menerapkan aturan jarak minimum 100 meter antar gerai dengan merek yang sama, sekaligus memperketat seleksi mitra dan lokasi.

Pendekatan ini, kata Reinard, mencerminkan perbaikan strategi ekspansi dibanding periode 2012-2015, ketika ekspansi agresif sempat menekan kinerja.

Ekspansi Alfamart juga kini semakin bergeser ke luar Pulau Jawa. Kontribusi wilayah luar Jawa meningkat dari 31 persen pada 2020 menjadi sekitar 37 persen pada 2025, menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka.

Sementara itu, dampak dari program KDKMP, yakni inisiatif pemerintah untuk membangun jaringan koperasi lokal sebagai pusat distribusi barang kebutuhan pokok, dinilai masih terbatas.

Menurut Reinard, program tersebut belum mampu menandingi standar operasional maupun kelengkapan produk yang dimiliki pemain minimarket besar.

Dari sisi kelayakan investasi, imbal hasil waralaba dinilai moderat. Dengan asumsi kepemilikan properti, tingkat pengembalian internal (IRR) selama 10 tahun berada di kisaran 10 persen dengan periode balik modal sekitar 7,4 tahun.

Angka tersebut dapat meningkat menjadi 13,5 persen dengan periode balik modal 5,4 tahun apabila gerai beroperasi di ruko sewa, berkat kebutuhan investasi awal yang lebih rendah.

“Meski imbal hasil tergolong moderat, mitra tetap menunjukkan minat untuk menambah gerai selama kualitas lokasi memenuhi kriteria,” kata Reinard.

Secara keseluruhan, Bahana tetap berpandangan positif terhadap sektor minimarket Indonesia. Duopoli pemain besar dinilai masih akan memperkuat pangsa pasar di kanal ritel modern, dengan gangguan yang relatif terbatas dari KDKMP.

Bahana merekomendasikan beli untuk saham MIDI dengan proyeksi margin laba bersih 3-4 persen ke depan, ditopang ekspansi gerai dan pemulihan penjualan toko sejenis (SSSG) secara bertahap.

Sementara itu, untuk AMRT, investor disarankan mengakumulasi saham setelah ada kejelasan terkait status inklusi di indeks MSCI, yang berpotensi menjadi katalis re-rating.

Sejumlah risiko yang perlu dicermati meliputi potensi keluarnya AMRT dari indeks MSCI, implementasi KDKMP yang dapat membatasi kanal distribusi, serta tekanan daya beli akibat kenaikan biaya input dan harga jual produk kebutuhan sehari-hari (FMCG). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik