Harga Batu Bara Terkoreksi seiring Trump Tunda Serangan Iran
IDXChannel - Harga batu bara turun ke sekitar USD140 per ton, terkoreksi dari level tertinggi 17 bulan terakhir seiring harga energi merosot tajam menyusul indikasi meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip Trading Economics, Selasa (24/3/2026), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari dan menyatakan pembicaraan produktif dengan negara tersebut sedang berlangsung.
Namun, Iran membantah melakukan negosiasi dengan AS, menyebut pengumuman Trump sebagai upaya untuk memanipulasi pasar keuangan.
Sejak perang di Iran dimulai, harga batu bara melonjak lebih dari 20 persen, karena gangguan panjang aliran minyak dan gas global membuat pembangkit listrik di ekonomi besar mengandalkan batu bara lebih banyak untuk menghasilkan listrik.
Harga gas alam yang tinggi juga mendorong negara-negara Eropa meningkatkan pembangkit listrik berbasis batu bara meski produksi energi terbarukan meningkat.
Asia Tingkatkan Penggunaan Batu Bara
Melansir The Associated Press, negara-negara Asia kembali mengandalkan batu bara karena perang di Iran mengganggu pengiriman minyak dan gas.
Asia rentan karena sebagian besar bahan bakar impor melewati Selat Hormuz, jalur vital yang mengatur sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global.
LNG, atau gas alam cair, adalah gas alam yang didinginkan agar mudah disimpan dan diangkut.
Gas ini dipromosikan sebagai bahan bakar transisi dalam peralihan dari minyak dan batu bara menuju energi bersih.
AS pun berupaya memperluas ekspor LNG ke Asia. Meski lebih bersih dibanding batu bara, LNG tetap menghasilkan gas rumah kaca, terutama metana.
Gangguan pasokan ini memaksa negara-negara Asia kembali mengandalkan batu bara untuk menutupi kekurangan LNG.
India meningkatkan pembakaran batu bara untuk menghadapi lonjakan permintaan musim panas, Korea Selatan mencabut batasan listrik dari batu bara, dan Indonesia memprioritaskan penggunaan pasokan dalam negeri.
Sementara itu, Thailand, Filipina, dan Vietnam juga memperluas pembangkit listrik berbasis batu bara. (Aldo Fernando)










