Saham Konglomerat Rontok selama Ramadan, Dibayangi Isu MSCI hingga Konflik Iran

Saham Konglomerat Rontok selama Ramadan, Dibayangi Isu MSCI hingga Konflik Iran

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 18 Maret 2026 - 09:10
share

IDXChannel – Kinerja saham-saham konglomerat selama Ramadan 2026 berada dalam tekanan tajam, dengan sebagian mencatatkan koreksi hingga lebih dari 40 persen dalam sebulan terakhir.

Pelemahan ini terjadi hingga menjelang Lebaran yang diperkirakan jatuh pada 20-21 Maret mendatang, di tengah kombinasi sentimen global dan domestik.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga penutupan pasar per Selasa (17/3/2026), saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu menjadi yang paling terpukul.

PT Petrosea Tbk (PTRO) anjlok 15,29 persen dalam sepekan dan merosot 42,01 persen dalam sebulan ke Rp4.320 per unit.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) ambles 37,85 persen secara bulanan ke Rp1.125 per unit, sementara PT Barito Pacific Tbk (BRPT) tumbang 36,98 persen ke Rp1.355 per unit.

Kemudian, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masing-masing terkoreksi 27,56 persen dan 27,50 persen dalam sebulan.

Tekanan juga meluas ke Grup Bakrie. BRMS turun 37,04 persen dalam sebulan ke Rp680, DEWA melemah 36,45 persen ke Rp394, sementara BUMI dan VKTR masing-masing turun sekitar 29 persen.

BNBR mencatat penurunan mingguan terdalam 20,95 persen, meski secara bulanan masih menguat 13,59 persen.

Saham lainnya juga tidak luput dari tekanan. DSSA milik Sinarmas turun 34,85 persen dalam sebulan ke Rp61.450, sedangkan AMMN milik Salim melemah 38,68 persen ke Rp4.630.

Saham Happy Hapsoro seperti RAJA, RATU, dan BUVA turun di kisaran 28-30 persen, sementara PGUN, JARR, dan TEBE milik Haji Isam terkoreksi hingga 32 persen. WIFI yang terafiliasi Hashim Djojohadikusumo juga turun 18,37 persen dalam sebulan.

Di tengah pelemahan luas tersebut, saham energi milik konsorsium Garibaldi ‘Boy’ Thohir relatif lebih kuat seiring kenaikan harga batu bara dan aluminium di tengah konflik Iran.

Saham ADRO naik 10,36 persen dalam sebulan ke Rp2.450, ADMR menguat 5,36 persen ke Rp1.965, dan AADI melonjak 20,69 persen ke Rp10.500.

Pelaku pasar menilai tekanan ini dipicu oleh kombinasi faktor. Dari sisi domestik, investor menanti pengumuman MSCI usai menyoroti masalah investabilitas pasar saham dalam negeri yang memicu arus keluar dana asing.

Sementara itu, investor juga mencermati struktur kepemilikan saham, khususnya porsi 1 persen yang diterbitkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Langkah ini merupakan bagian dari transformasi yang dilakukan otoritas pasar modal Indonesia untuk menjawab keraguan MSCI, sekaligus mengukur free float riil dan likuiditas pasar.

Dari sisi global, tekanan diperparah oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang mendorong lonjakan harga energi.

Harga minyak mentah sempat melonjak ke level USD100 per barel, bahkan sempat jauh menembus level tersebut, seiring gangguan pasokan dan ancaman terhadap jalur strategis Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat, sekaligus menekan sentimen pasar saham, terutama pada saham-saham dengan likuiditas terbatas.

Menjelang Lebaran, tekanan juga diperkuat faktor musiman, di mana investor cenderung melakukan aksi jual dan meningkatkan posisi kas.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, pergerakan saham konglomerat diperkirakan masih volatil dalam jangka pendek, setidaknya hingga pasar menemukan keseimbangan baru pasca-libur panjang. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik