Analis Soroti Model Bisnis BBCA usai Sebar Dividen Rp336 per Saham
IDXChannel - Langkah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membagikan dividen sebesar Rp336 per saham untuk tahun buku 2025 jadi sorotan. Langkah ini dinilai menunjukkan fundamental perseroan masih sangat solid dan mampu memberikan imbal hasil yang menarik bagi pemegang saham.
Sebagai informasi, total dividen yang dibagikan mencapai sekitar Rp41,3 triliun atau setara dengan dividen payout ratio sekitar 72 persen dari laba bersih BCA yang mencapai sekitar Rp57,5 triliun pada 2025. Dividen tersebut sebenarnya sudah termasuk dividen interim sebesar Rp55 per saham yang telah dibayarkan pada Desember 2025, sehingga sisa dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham sekitar Rp281 per saham.
"Besarnya pembagian dividen ini mencerminkan kemampuan BCA dalam menjaga kinerja yang stabil sekaligus mempertahankan arus kas yang kuat," kata Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana kepada IDX Channel, Jumat (13/3/2026).
Sambut Imlek, MNC Sekuritas dan Ciptadana Asset Management Hadirkan Promo 'Pacu Hoki di Tahun Kuda'
Hendra mengatakan, pembagian dividen yang besar ini juga menunjukkan BCA masih mampu menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat. Sepanjang 2025, kinerja perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan positif, ditopang oleh ekspansi kredit yang stabil serta pertumbuhan dana pihak ketiga yang kuat.
"Kondisi ini memperlihatkan bahwa model bisnis BCA masih sangat resilient di tengah dinamika ekonomi global, sehingga perusahaan tetap mampu menghasilkan profitabilitas yang tinggi sekaligus memberikan return yang menarik bagi pemegang saham," kata dia.
Selain pembagian dividen tersebut, manajemen juga membuka peluang untuk meningkatkan frekuensi dividen interim mulai tahun buku 2026. Jika kondisi keuangan perusahaan tetap solid, BCA berpotensi membagikan dividen interim lebih sering dalam setahun.
"Kebijakan ini tentu menjadi sentimen positif bagi pasar karena mencerminkan stabilitas arus kas perusahaan sekaligus memperkuat daya tarik saham BCA sebagai saham dengan karakter dividend play yang konsisten," kata Hendra.
Dia menegaskan, bagi investor jangka panjang maupun investor institusi, kepastian distribusi dividen yang lebih rutin biasanya menjadi faktor penting dalam menjaga minat investasi.
Di sisi lain, keputusan perseroan untuk menyiapkan dana hingga Rp5 triliun untuk aksi buyback saham juga memberikan sinyal positif bagi pasar. Aksi buyback biasanya dipersepsikan sebagai bentuk kepercayaan manajemen terhadap valuasi saham perusahaan.
Selain itu, buyback juga berpotensi meningkatkan laba per saham karena jumlah saham beredar dapat berkurang, sekaligus membantu menjaga stabilitas harga saham ketika pasar sedang mengalami volatilitas.
Seturut itu, dia menambahkan soal kombinasi antara pembagian dividen yang besar, peluang dividen interim yang lebih sering, serta rencana buyback saham menunjukkan bahwa BCA tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis tetapi juga aktif mengoptimalkan pengelolaan modal untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
"Strategi ini memperkuat posisi BCA sebagai saham perbankan blue chip dengan fundamental kuat serta profil risiko yang relatif rendah di pasar modal Indonesia," katanya.
Dari sisi pergerakan harga saham, ujar dia, kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi saham BBCA. Sebab, memberikan kepastian return bagi investor sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
IHSGSesiI Melemah ke Level 8.218
Secara trading, saham BBCA masih menarik untuk speculative buy dengan target di kisaran 7.400, seiring potensi technical rebound serta dukungan sentimen positif dari kebijakan dividen dan rencana buyback tersebut.
"Jika kondisi pasar global mulai stabil dan aliran dana investor kembali masuk ke sektor perbankan, saham BBCA memiliki peluang untuk kembali menguat," katanya.
(Dhera Arizona)










