IHSG Turun Lebih dari 2 Persen di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

IHSG Turun Lebih dari 2 Persen di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 13 Maret 2026 - 11:24
share

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Jumat (13/3/2026) pagi, tertekan lonjakan harga minyak dunia yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.54 WIB, IHSG merosot 2,29 persen ke level 7.193,53.

Sebanyak 601 saham melemah, 133 saham menguat, dan 224 saham lainnya stagnan.

Tekanan pada indeks terutama datang dari saham-saham konglomerasi dan perbankan berkapitalisasi besar (big cap), mulai dari Grup Barito, Salim, hingga raksasa bank pelat merah dan Grup Djarum.

Pelemahan IHSG sejalan dengan koreksi bursa global, termasuk bursa Asia, dengan KOSPI Korea Selatan jatuh 1,29 persen dan Nikkei Jepang tergelincir 1,03 persen.

BRI Danareksa Sekuritas menyebut lonjakan harga minyak dunia kembali menekan sentimen pasar.

Dalam risetnya, Jumat (13/3/2026), harga minyak dunia kembali melampaui USD100 per barel akibat konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan energi global.

Lonjakan ini turut memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan sentimen risk-off di pasar keuangan.

Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, kata BRI Danareksa, kenaikan harga energi berpotensi memperbesar biaya impor dan menambah tekanan inflasi sehingga rupiah tetap rentan.

Ke depan, arah pergerakan rupiah dinilai sangat bergantung pada perkembangan geopolitik serta dinamika harga energi global.

Sementara, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada rapat kebijakan Selasa (17/3) mendatang.

Mayoritas ekonom dalam jajak pendapat Reuters menilai BI akan menahan suku bunga untuk keenam kalinya secara berturut-turut.

Langkah ini dinilai dipengaruhi kembali oleh tekanan terhadap rupiah setelah pecahnya konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut dinilai membatasi ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Meski sebelumnya memberi sinyal ingin mendukung pertumbuhan ekonomi, BI telah menahan suku bunga sejak Oktober lalu.

Pelemahan rupiah yang kembali terjadi mendorong bank sentral memprioritaskan stabilitas nilai tukar, yang merupakan mandat utamanya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik