Dirut Agrinas Bantah Tak Utamakan Produsen Otomotif Lokal dalam Pengadaan Pick Up Kopdes Merah Putih

Dirut Agrinas Bantah Tak Utamakan Produsen Otomotif Lokal dalam Pengadaan Pick Up Kopdes Merah Putih

Terkini | idxchannel | Selasa, 24 Februari 2026 - 20:20
share

IDXChannel - Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota membantah tidak mengutamakan pabrikan otomotif dalam negeri dalam pengadaan 105 ribu unit pick up untuk kendaraan operasional Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Joao menekankan soal sejumlah korporasi otomotif ternama telah dimintai kesanggupan produksi, namun tidak ada satu pun yang menyanggupi pemenuhan produksi untuk ratusan ribu unit pick up. Seturut itu, harga yang ditawarkan pula jauh lebih mahal dibandingkan alokasi anggaran Agrinas.

"Klarifikasi kami bahwa tidak memberikan kesempatan atau tidak memberikan ruang kepada produsen lokal itu tidak benar. Karena kami terbuka, kami juga melakukan kegiatan (proses penawaran pengadaan) ini secara transparan, dan semua produsen kami beri kesempatan yang sama," kata Joao saat ditemui di kantor Agrinas, Jakarta, Selasa (24/2/2026). 

Dari dokumen yang dibeberkan Joao, tercatat sedikitnya ada empat perusahaan otomotif yang menyatakan hanya menyanggupi kapasitas produksi truk dan kendaraan unit pick up 4x4 dan kendaraan niaga tidak lebih dari 45 ribu unit. Sedangkan kebutuhan Agrinas untuk kepentingan operasional Koperasi Merah Putih lebih dari 100 ribu unit.

Seperti Mitsubishi lewat unit Fuso yang hanya mampu memproduksi 20.600 unit, Foton Aumark (13.500 unit), Hino (10 ribu unit), dan Astra Isuzu Canter (900 unit). 

"Mereka hanya mampu memproduksi inden unit per bulan. Artinya bahwa kebutuhan kami tidak bisa terpenuhi, dan harganya pun ditawarkan sekitar 25 persen lebih mahal dengan kompetitor yang kami akhirnya berkontrak," ujar Joao.

Meski begitu, Joao dalam setiap sesi pertemuan bisnis dengan produsen mulai Astra hingga Mitsubishi mengklaim melakukan lobi termasuk harga. Namun, semua terbentur pada kalkulasi bisnis, sehingga tidak ada titik temu soal harga di antara kedua belah pihak.

"Seharusnya kami bisa diberikan harga khusus sehingga kami mampu atau kami mau untuk ber-deal dengan mereka. Tapi sampai dengan terakhir, kami tidak mendapatkan atau tidak dikasih kesempatan untuk memberikan dengan harga yang khusus, sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar gitu. Khususnya India," katanya.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik