Menilik Dampak Aksi Ekspansi Regional Chandra Asri (TPIA) ke Singapura
IDXChannel - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memperkuat langkah transformasi bisnisnya melalui ekspansi regional ke Singapura. Ekspansi dilakukan lewat Aster Chemicals and Energy Pte Ltd, entitas Chandra Asri Group yang mengelola aset energi dan kimia di Negeri Singa.
Melalui Aster, perseroan memperoleh eksposur terhadap pasar energi dan kimia yang lebih matang dan stabil, mencakup pengelolaan kilang, ethylene cracker, aset kimia hilir, hingga jaringan ritel bahan bakar.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khae, menilai langkah sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi regional sekaligus mendukung agenda hilirisasi nasional.
“Akuisisi aset energi di Singapura dan pembangunan fasilitas baru petrokimia bisa dibilang menunjukkan keseriusan Chandra Asri Group memperkuat posisi regional sekaligus mendukung agenda hilirisasi nasional, yang ke depannya bisa mengurangi ketergantungan impor dan memberi efek berganda bagi industri dalam negeri,” ujarnya di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, keberadaan aset Chandra Asri Group pada kawasan regional, dinilai justru mempertegas peran Indonesia dalam rantai pasok dan rantai nilai industri di tingkat kawasan. Melalui jaringan operasional yang semakin luas, perusahaan dapat menyinergikan kegiatan produksi di dalam negeri dengan akses pasar regional.
“Overall, kami menilai prospek kinerja TPIA ke depan menjanjikan dengan catatan eksekusi ekspansi berjalan sesuai rencana, sinergi aset mulai terealisasi, dan efisiensi operasional terus dijaga. Rencana buyback saham juga bisa menjadi sinyal positif untuk TPIA,” kata Mifta.
Senada dengan Mifta, Analis Pasar Modal Stocknow Hendra Wardana menyebut langkah tersebut memberi TPIA akses ke pasar yang lebih stabil sekaligus meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko volatilitas harga energi. Diversifikasi geografis menjadi penopang penting di tengah siklus industri petrokimia yang fluktuatif.
“Dari sisi industri nasional, langkah Chandra Asri atau TPIA ini berpotensi menjadi katalis penting bagi penguatan struktur industri kimia dan energi domestik, khususnya dalam mendukung substitusi impor, efisiensi biaya bahan baku industri hilir, serta mendorong integrasi rantai pasok energi dan kimia di dalam negeri,” ujar Hendra.
Implementasi strategi tersebut tercermin pada pembangunan Pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. Fasilitas ini diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja selama masa konstruksi dan sekitar 250 pekerja saat beroperasi.
Pabrik CA-EDC akan memiliki kapasitas produksi 400.000 ton per tahun soda kaustik padat atau 827.000 ton dalam bentuk likuid, serta 500.000 ton per tahun Ethylene Dichloride (EDC). Dengan beroperasinya fasilitas tersebut, ketergantungan impor produk chlor alkali diperkirakan dapat ditekan hingga Rp4,9 triliun per tahun.
Sementara itu, seluruh produksi EDC akan diekspor dan berpotensi menambah devisa hingga Rp5 triliun per tahun.
Menurut Hendra, kombinasi ekspansi regional, penguatan hilirisasi, serta restrukturisasi aset menunjukkan Chandra Asri kini tidak lagi bertumpu pada bisnis petrokimia konvensional yang sangat siklikal. Strategi ini dinilai memberi nilai tambah melalui diversifikasi pendapatan dan perluasan pasar.
“Ekspansi regional melalui akuisisi aset energi di Singapura, penguatan hilirisasi lewat pembangunan pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, hingga restrukturisasi aset antar entitas anak menunjukkan bahwa Chandra Asri tidak lagi semata bertumpu pada bisnis petrokimia konvensional yang sangat siklikal,” ujarnya.
(Dhera Arizona)










