India Hindari Pembelian Minyak Rusia Demi Capai Kesepakatan Dagang dengan AS

India Hindari Pembelian Minyak Rusia Demi Capai Kesepakatan Dagang dengan AS

Terkini | idxchannel | Senin, 9 Februari 2026 - 07:04
share

IDXChannel – Perusahaan-perusahaan kilang minyak di India menghindari pembelian minyak Rusia untuk pengiriman April dan diperkirakan menjauhi perdagangan tersebut untuk waktu yang lebih lama. Hal itu sebagai upaya untuk membantu New Delhi mencapai kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).

AS dan India semakin mendekati kesepakatan perdagangan pada Jumat pekan lalu, dengan mengumumkan kerangka kerja yang mereka harapkan dapat diselesaikan pada Maret yang akan menurunkan tarif dan memperdalam kerja sama ekonomi.

Indian Oil, Bharat Petroleum, dan Reliance Industries tidak menerima tawaran untuk pengiriman minyak Rusia pada Maret dan April, kata seorang pedagang yang menghubungi kilang-kilang tersebut seperti dilansir dari Reuters, Minggu (8/2/2026).

Namun, kilang-kilang ini telah menjadwalkan beberapa pengiriman minyak Rusia pada Maret, kata sumber-sumber di bidang penyulingan. Sebagian besar kilang lainnya telah berhenti membeli minyak mentah Rusia.

Ketiga perusahaan kilang dan kementerian energi India tidak menanggapi permintaan komentar. Menteri perdagangan pada Sabtu merujuk pertanyaan tentang minyak Rusia ke kementerian luar negeri.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri India mengatakan: "Diversifikasi sumber energi kita sesuai dengan kondisi pasar objektif dan dinamika internasional yang berkembang adalah inti dari strategi kita.”

Kementerian Luar Negeri India juga menyatakan hal itu merupakan upaya untuk memastikan keamanan energi bagi negara terpadat di dunia tersebut.

Meskipun pernyataan AS-India tentang kerangka perdagangan tidak menyebutkan minyak Rusia, Presiden AS Donald Trump mencabut tarif 25 persen yang dikenakan pada barang-barang India karena New Delhi telah berkomitmen untuk menghentikan impor minyak Rusia secara langsung atau tidak langsung.

Sebelumnya, Trump menerapkan tarif tersebut karena India membeli minyak Rusia. Meski begitu, New Delhi belum mengumumkan rencana untuk menghentikan impor minyak Rusia.

India menjadi pembeli utama minyak mentah Rusia yang didiskon setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022. Hal itu memicu reaksi keras dari negara-negara Barat yang telah menargetkan sektor energi Rusia dengan sanksi yang bertujuan untuk mengurangi pendapatan Moskow dan mempersulit pendanaan perang.

Pembelian Minyak Rusia Semakin Turun

Salah satu pembeli reguler India merupakan perusahaan penyulingan swasta yang didukung Rusia, yaitu Nayara, yang sepenuhnya bergantung pada minyak Rusia untuk kilang berkapasitas 400.000 barel per hari.

Sumber mengatakan Nayara mungkin diizinkan untuk terus membeli minyak Rusia karena penjual minyak mentah lainnya menarik diri setelah Uni Eropa memberikan sanksi kepada perusahaan penyulingan tersebut pada Juli tahun lalu.

Namun, Nayara juga tidak berencana untuk mengimpor minyak mentah Rusia pada April karena penutupan pemeliharaan kilang selama sebulan, kata sumber yang mengetahui operasinya. Di sisi lain, Nayara tidak menanggapi email yang meminta komentar.

Perusahaan penyulingan India mungkin mengubah rencana mereka dan memesan minyak Rusia hanya jika disarankan oleh pemerintah, kata sumber.

Perintah Trump mengatakan pejabat AS akan memantau dan merekomendasikan pemberlakuan kembali tarif jika India melanjutkan pengadaan minyak dari Rusia.

Sumber-sumber mengatakan bulan lalu bahwa India sedang bersiap untuk memangkas impor minyak Rusia di bawah 1 juta barel per hari pada Maret, dengan volume akhirnya turun menjadi 500.000–600.000 barel per hari, dibandingkan dengan rata-rata 1,7 juta barel per hari tahun lalu. Impor minyak Rusia India mencapai lebih dari 2 juta barel per hari pada pertengahan 2025.

Penggunaan minyak Rusia oleh India, konsumen dan importir minyak terbesar ketiga di dunia, menurun ke level terendah dalam dua tahun pada Desember, menurut data dari sumber perdagangan dan industri.

Kilang minyak India telah membeli lebih banyak minyak dari negara-negara Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Selatan seiring dengan pengurangan pembelian minyak Rusia.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik