Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,21 Persen di 2025, Tiga Sektor Jadi Penopang

Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,21 Persen di 2025, Tiga Sektor Jadi Penopang

Terkini | idxchannel | Jum'at, 6 Februari 2026 - 22:14
share

IDXChannel - Perekonomian DKI Jakarta sepanjang 2025 menunjukkan kinerja yang solid. Hal itu ditopang oleh tiga sektor bisnis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 5 Februari 2026, ekonomi DKI Jakarta pada 2025 tercatat tumbuh 5,21 persen dibandingkan 2024.

Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan capaian ekonomi nasional yang berada di level 5,11 persen. Sementara itu, kontribusi Jakarta terhadap perekonomian nasional tetap terjaga pada angka 16,61 persen.

Tiga sektor usaha yang menopang pertumbuhan ekonomi Jakarta di tengah tantangan ekonomi global pada tahun lalu, yakni penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencatatkan kenaikan 9,33 persen, transportasi dan pergudangan sebesar 8,69 persen, serta jasa lainnya yang tumbuh 8,46 persen.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai capaian tersebut merupakan hasil sinergi seluruh unsur kota, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat.

"Pertumbuhan ekonomi Jakarta yang melampaui rata-rata nasional adalah buah dari kolaborasi. Pemerintah hadir menjaga iklim usaha, dunia usaha bergerak menciptakan nilai tambah, dan warga tetap percaya serta aktif berpartisipasi dalam perekonomian kota,” tutur Pramono, mengutip laman resmi Pemprov DKI, Jumat (6/2/2026).

Dari sisi pengeluaran, struktur ekonomi Jakarta masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 62,80 persen. Adapun pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menyumbang 33,79 persen, sedangkan konsumsi pemerintah berkontribusi 13,20 persen.

Komposisi tersebut menegaskan pentingnya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong iklim investasi yang berkelanjutan.

Menjelang akhir 2025, Pemprov DKI menyiapkan berbagai kebijakan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi sekaligus memberikan ruang bagi pelaku usaha. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan IV-2025 menguat dengan laju 5,71 persen secara yoy.

Pada periode tersebut, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 8,40 persen, jasa lainnya meningkat 8,32 persen, serta jasa perusahaan mencatatkan kenaikan 8,11 persen. 

“Kami sengaja mendorong stimulus di periode akhir tahun, bukan hanya untuk mengejar angka pertumbuhan, tetapi untuk memastikan roda ekonomi berputar dan lapangan kerja tetap terjaga,” kata Pramono.

Salah satu kebijakan yang diterapkan pada triwulan IV-2025 adalah pemberian insentif pajak guna memperkuat iklim investasi dan kegiatan usaha. Pemprov DKI Jakarta juga memberikan keringanan pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) bagi sektor makanan dan minuman serta jasa perhotelan.

Melalui Keputusan Gubernur Nomor 722 Tahun 2025, Pemprov DKI menetapkan keringanan pajak sebesar 50 persen pada Agustus–September dan 20 persen pada Oktober–Desember 2025. Kebijakan tersebut diambil sebagai respons atas meningkatnya biaya produksi sekaligus untuk menekan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Total nilai keringanan pajak tersebut mencapai Rp 495 miliar dan dinikmati oleh 45.248 objek pajak. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta memberikan insentif berupa pembebasan pajak reklame di pusat perbelanjaan dan hotel dalam rangkaian acara Jakarta Festive Wonders. 

Langkah ini berhasil mendorong realisasi pajak reklame tumbuh 8,85 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus meningkatkan realisasi PBJT makanan dan minuman sebesar 7,73 persen, serta PBJT jasa perhotelan naik 9,18 persen dibandingkan November 2025.

Pertumbuhan ekonomi DKI pada triwulan IV-2025 turut didukung oleh meningkatnya kunjungan ke pusat perbelanjaan yang melonjak 20 persen selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026). Pada periode yang sama, tingkat okupansi hotel juga meningkat 5 persen, dari 85 persen menjadi 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pramono menekankan bahwa Pemprov DKI bakal terus menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang bersifat inklusif. Seturut itu, kebijakan fiskal terus berjalan seiring kepentingan publik, mulai dari penguatan daya beli hingga penciptaan lapangan kerja, dan keberlanjutan usaha.

"Pertumbuhan ekonomi harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga Jakarta," ucap dia.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik