Kesiapan Operasional Turut Jadi Kunci Keberlanjutan Proyek Sampah Jadi Listrik

Kesiapan Operasional Turut Jadi Kunci Keberlanjutan Proyek Sampah Jadi Listrik

Terkini | idxchannel | Kamis, 5 Februari 2026 - 01:10
share

IDXChannel - Pemerintah tengah mendorong pengembangan proyek Waste-to-Energy (WtE) sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat bauran energi.

Dengan timbunan sampah nasional yang telah melampaui 189.000 ton per hari, WtE dipandang sebagai solusi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan ketahanan energi.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan, proyek WtE akan mulai dikerjakan pada tahun 2026 ini dengan target awal menyasar 33 kota di seluruh Indonesia. Kualifikasinya, wilayah tersebut punya produksi sampah 1.000 ton per hari.

"Dahulu negosiasinya, mohon maaf, satu proyek saja itu bisa 3-4 tahun baru putus. Sekarang kita baru buka Desember, kemarin mulai bidding di awal. Target kita, Maret sudah bisa groundbreaking," ujarnya dalam acara 'Semangat Awal Tahun 2026', dikutip Rabu (14/1/2026).

Namun, tantangan utama dalam implementasi WtE tidak hanya terletak pada teknologi pembangkit, melainkan juga pada kesiapan sistem operasional di lapangan, khususnya dalam hal penanganan dan pergerakan limbah.

Pelaku industri menilai, tanpa sistem penanganan limbah yang andal dan terintegrasi, fasilitas WtE berisiko menghadapi ketidakstabilan pasokan bahan baku, tingginya downtime, serta peningkatan biaya operasional yang dapat mempengaruhi kelayakan ekonomi proyek dalam jangka panjang.

Dalam konteks ini, perusahaan penyedia alat berat mulai mengambil peran lebih luas dalam mendukung rantai operasional proyek WtE. PT Multicrane Perkasa (MCP), misalnya, terlibat dalam sejumlah proyek pengolahan limbah menjadi energi dengan pendekatan sistem penanganan limbah yang terintegrasi, mulai dari tahap pra-pengolahan hingga feeding ke fasilitas WtE atau RDF.

MCP memanfaatkan sistem berbasis crane elektrik sebagai alternatif metode konvensional. Pendekatan ini dinilai mampu menjaga konsistensi aliran limbah ke fasilitas pengolahan sekaligus menekan risiko gangguan teknis yang berpotensi menyebabkan downtime.

Selain itu, penggunaan material handler yang dirancang khusus untuk waste handling juga memungkinkan proses transfer limbah dilakukan secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa, Adrianus Hadiwinata, menyampaikan bahwa keberhasilan proyek Waste-to-Energy sangat bergantung pada kesiapan sistem operasional di lapangan, bukan semata pada teknologi pembangkit.

"Pengelolaan sampah berkelanjutan membutuhkan dukungan operasional yang solid. Stabilitas penanganan limbah menjadi faktor penting agar proyek WtE dapat berjalan secara efisien dan berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (4/2/2026).

Seiring meningkatnya komitmen pemerintah terhadap pengembangan Waste-to-Energy, peran mitra industri yang memahami karakteristik limbah domestik dinilai semakin krusial. Dengan dukungan sistem operasional yang tepat, proyek WtE diharapkan tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga layak secara ekonomi dan mampu beroperasi dalam jangka panjang.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik