Gubernur NTT Murka Siswa SD Ngada Bunuh Diri: Malu Saya Ada Warga Meninggal karena Miskin

Gubernur NTT Murka Siswa SD Ngada Bunuh Diri: Malu Saya Ada Warga Meninggal karena Miskin

Terkini | inews | Rabu, 4 Februari 2026 - 20:49
share

KUPANG, iNews.id – Kasus siswa SD bunuh diri di Kabupaten Ngada, memicu kemarahan dan rasa malu mendalam Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena. Dia menegaskan, meninggalnya seorang anak yang diduga nekat mengakhiri hidup karena tekanan kemiskinan tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa.

Pernyataan keras itu disampaikan Gubernur NTT saat menghadiri peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2/2026).

“Jangan anggap ini biasa. Ada seorang anak di NTT mati hanya karena tidak bisa beli buku. Ini sangat mengusik hati,” ujar Melki dengan nada emosional dikutip Rabu (4/2/2026).

Gubernur mengaku terpukul dan malu setelah kasus kematian siswa SD yang menyedot perhatian nasional. Dia menyebut banyak menteri, pimpinan DPR, hingga tokoh nasional menghubunginya untuk mempertanyakan kondisi sosial di NTT.

“Malu. Ini warga negara Indonesia, orang NTT, mati hanya karena miskin. Ini yang terakhir jangan ada lagi,” katanya.

Menurut Melki, tragedi kematian siswa ini mencerminkan kegagalan sistemik berbagai pihak, tidak hanya pemerintah daerah, tetapi juga pranata sosial lainnya.

“Kalau sampai orang mati model begini, berarti pemerintahan gagal, provinsi gagal, kabupaten juga gagal. Peranata agama dan budaya juga gagal,” katanya.

Gubernur NTT juga menegur keras Sekretaris Daerah Kabupaten Ngada karena dinilai lambat memberikan penjelasan terkait peristiwa tersebut. Respons pemerintah daerah yang tidak cepat membuatnya mengambil langkah sendiri.

“Saya WA kepala daerahnya, lama sekali respons. Akhirnya saya minta orang saya turun sendiri untuk cek. Jangan-jangan karena sudah biasa ada yang mati di sana, ini dianggap biasa. Padahal ini alarm besar bagi kita semua,” ucapnya.

Melki menilai kasus siswa SD Ngada bunuh diri merupakan kegagalan kolektif yang harus menjadi bahan introspeksi bersama.

“Pranata sosial kita gagal, pranata agama gagal, pranata budaya gagal. Pemerintah provinsi gagal, kabupaten juga gagal. Ini orang mati karena miskin, bukan karena bencana,” ujarnya.

“Kalau ada yang miskin dan susah, urus. Uang memang terbatas, tapi ada. Kita semua mesti malu dengan kejadian ini. Ini harus jadi pertobatan bersama dan harus menjadi yang terakhir,” katanya lagi.

Diketahui, korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Korban ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) siang dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh dekat pondok sederhana tempat tinggalnya bersama sang nenek.

Sebelum kejadian siswa SD Ngada bunuh diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Dalam olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis korban untuk ibunya. Surat itu menggunakan bahasa daerah Ngada dan berisi pesan perpisahan.

Topik Menarik