Pidato Pezeshkian Tampar IAEA: Israel yang Punya Bom Nuklir, tapi Iran yang Diawasi

Pidato Pezeshkian Tampar IAEA: Israel yang Punya Bom Nuklir, tapi Iran yang Diawasi

Global | sindonews | Kamis, 24 September 2026 - 13:53
share

Pidato Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Sidang Umum PBB telah "menampar" praktik standar ganda Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Menurutnya, Israel yang memiliki senjata nuklir tapi tak pernah diawasi atau diinspeksi.

Sebaliknya, para inspektur IAEA justru dikirim untuk memantau program nuklir Iran yang sejak awal untuk kepentingan sipil. PidatoPezeshkiandisampaikanpada Rabu waktu New York.

Baca Juga: Iran Kirim 7 Syarat ke Trump, Ancam Ubah Doktrin Nuklir

“Tema pertemuan ini adalah saling percaya. Hal itu tidak dapat dicapai hanya dengan kata-kata, tetapi dengan meninggalkan standar ganda. Senjata atom dan nuklir berada di tangan rezim Israel, tetapi inspektur [IAEA] diminta datang ke Iran,” kata Pezeshkian, seperti dikutip The Jerusalem Post, Kamis (24/9/2026).

“Israel memiliki bom, memiliki senjata pemusnah massal. Israel bukan anggota Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Sepanjang sejarahnya yang memalukan, mereka tidak mengizinkan satu pun inspeksi, tetapi mereka justru diberi semua sarana yang diperlukan untuk mengebom ibu kota mana pun di kawasan ini sesuka hati,” ujarnya.

“Masalah-masalah kawasan kami harus diselesaikan di kawasan ini. Tidak boleh ada hubungan dengan kekuatan asing yang menjadi alat untuk mengancam negara-negara di kawasan,” lanjutnya.

Pezeshkian menegaskan bahwa teknologi nuklir untuk tujuan damai merupakan bagian dari kemajuan Iran.“Bagi negara kami, teknologi nuklir damai merupakan bagian dari kemajuan kami... Iran tidak menerima teknologi nuklir berada di bawah kendali segelintir pihak...Kami tidak akan menundukkan kepala dan kami mengatakannya dengan jelas: tidak ada senjata nuklir dan tidak ada pembatasan terhadap pengembangan nuklir damai kami,” kata pemimpin Iran tersebut.

Pezeshkian Singgung Gaza dan Perang Iran

Pezeshkian juga menyinggung konflik di Gaza dan menuduh Israel telah membunuh lebih dari 70.000 warga sipil Palestina.

“Israel telah membunuh secara brutal lebih dari 70.000 warga sipil di Gaza, sementara Iran sedang berada di meja perundingan dan dibom,” katanya.

“Palestina tetap menjadi luka terbuka dalam nurani masyarakat internasional, dan Gaza tetap menjadi simbol nyata kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil,” ujarnya.

“Selama beberapa dekade, berbagai resolusi telah diadopsi, tetapi pendudukan terus berlangsung. Perdamaian yang langgeng di Asia Barat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Palestina. Selama pendudukan, agresi, dan ketidakadilan terus berlangsung di dunia, perlawanan akan terus berlanjut. Jika dilemahkan dalam satu bentuk, perlawanan akan muncul kembali dalam bentuk lainnya,” lanjut Pezeshkian.

“Gaza, meskipun menghadapi pembunuhan tanpa henti dan kehancuran yang meluas, telah memperkuat tekad rakyat untuk melakukan perlawanan. Ini adalah sifat manusia,” katanya.Lebih lanjut, Pezeshkian menanggapi pidato Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya, ketika Trump menyerang Iran dan pemerintahan Republik Islam.

“Saya telah menyiapkan pidato untuk saya sampaikan kepada Anda kemarin, ketika presiden AS menyebut kami sebagai teroris. Kami adalah korban terorisme,” kata Pezeshkian.

“Saya berasal dari Iran, tempat pemimpin tertinggi kami dibunuh tanpa alasan hukum, tempat sebuah sekolah dibom. Anak-anak tewas di bawah bom dengan senjata yang digunakan Israel dan AS; mereka tidak melakukan kejahatan apa pun,” lanjutnya.

“Pernyataan presiden AS kemarin menunjukkan bahwa mereka yang ahli dalam hukum internasional, dialog, diplomasi, dan standar kemanusiaan dasar memahami bahwa semua yang disampaikan terhadap negara kami bertentangan dengan Piagam PBB,” katanya.

“Trump harus memahami bahwa Iran siap menempuh jalan dialog dan negosiasi, tanpa menerima bahasa perang,” imbuh Pezeshkian.

“Mereka yang merupakan teroris, melatih dan melindungi teroris, justru menyebut kami teroris. Kami membela diri; kami bukan teroris,” tegasnya.“Kami merespons, tetapi kami tidak menargetkan warga sipil... Pada hari saya menjadi presiden, mereka membunuh [pemimpin Hamas] Ismail Haniyeh. Mereka menargetkan lingkungan mana pun, provinsi mana pun, di mana pun,” katanya.

“Apakah kami sumber ketidakstabilan? Kami hanya ingin hidup secara mandiri...Kami tidak menginginkan apa pun. Kami telah memberikan respons kami. Kami membutuhkan kekuatan, karena bangsa yang tidak mampu membela dirinya sendiri akan diinjak-injak,” papar Pezeshkian.

Pezeshkian mengeklaim bahwa Iran tidak pernah menyerang wilayah negara lain selama 200 tahun terakhir.

“Selama 200 tahun terakhir, Iran tidak pernah menyerang wilayah mana pun. Kami membela diri, tetapi tidak pernah menyerang...Kami tidak mencari kekuatan untuk menyerang atau melakukan agresi. Kami membutuhkan energi untuk kemajuan, bukan untuk mengancam,” katanya.

Menurut Pezeshkian, rakyat Iran dalam tujuh bulan terakhir terus mendukung tanah air mereka.

“Iran harus kuat agar tidak terancam dan agar masa depannya tidak terancam...Sistem pertahanan kami sedang dibangun agar pengeboman terhadap kota-kota Iran tidak berlalu tanpa respons. Kami tidak membutuhkan persetujuan siapa pun untuk mempertahankan diri,” ujarnya.Pezeshkian juga mengatakan Iran tidak memandang negara-negara tetangga sebagai pesaing keamanan.

“Kami tidak melihat tetangga kami sebagai pesaing keamanan. Kami ingin memiliki tetangga yang kuat. Tetapi kami tidak dapat membiarkan pihak tertentu mendapatkan akses ke jalur perairan kami lalu menggunakannya untuk menyerang kami,” katanya, merujuk pada militerisasi Selat Hormuz, termasuk blokade yang disebut masih dilakukan Komando Pusat AS (CENTCOM).

Sementara itu, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengecam pernyataan Pezeshkian.

“Ini adalah rezim yang sama yang mempersenjatai Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, Hamas di Gaza serta Yudea dan Samaria, serta milisi di Irak,” kata Danon.

“Rezim yang sama yang membunuh warganya sendiri ketika mereka berani memprotesnya. Pezeshkian, rezim Anda menyebarkan teror. Anda adalah orang terakhir yang bisa mengajari Israel dan AS tentang moralitas,” ujarnya.