Dilema Ekonomi China: Ekspor Melonjak, Warga Menahan Konsumsi Domestik

Dilema Ekonomi China: Ekspor Melonjak, Warga Menahan Konsumsi Domestik

Global | sindonews | Kamis, 24 September 2026 - 09:43
share

Kemerosotan investasi dan pengeluaran konsumen China tetap tertekan oleh lemahnya permintaan domestik, meski produksi industri bergerak melonjak didorong oleh ketahanan sektor ekspor. Demikian laporan The Wall Street Journal (WSJ), Kamis (24/9/2026).

Biro Statistik Nasional China melaporkan bahwa investasi aset tetap turun sebesar 7,2 pada periode Januari hingga Agustus dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini semakin melebar dari koreksi 6,7 yang dicatat pada tujuh bulan pertama tahun ini, sejalan dengan proyeksi para ekonom yang sebelumnya memperkirakan penurunan investasi sebesar 7,2.

Baca Juga: Tim Jaksa AS Labeli Huawei Sindikat Kriminal dalam Persidangan di New York

Sektor real estate China yang sedang berjuang keras tetap menjadi penghambat utama momentum ekonomi secara keseluruhan, dengan investasi properti anjlok hampir 20 dari tahun sebelumnya dalam delapan bulan pertama.

Sementara itu, penjualan eceran yang menjadi indikator utama konsumsi domestik China hanya tumbuh 0,4 bulan lalu dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini melambat dari kenaikan 0,6 pada bulan Juli dan meleset dari perkiraan kenaikan 0,8 yang diharapkan oleh para ekonom dalam survei.

“Secara bulanan (month-on-month), indikator konsumsi ini mengalami penurunan 0,13, menandakan masih tergerusnya tingkat kepercayaan rumah tangga,” ungkap keterangan yang dikutip dari laman WSJ.

Kejutan Sektor Industri dan Manufaktur Canggih

Berbeda dengan sektor domestik yang lesu, produksi industri China yang ditopang oleh kuatnya permintaan luar negeri memberikan kejutan dengan mencatatkan kenaikan 5,2 pada bulan Agustus dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini meningkat dari kenaikan 4,5 yang tercatat pada bulan Juli. Sebelumnya, para ekonom yang disurvei oleh WSJ memperkirakan output industri hanya akan tumbuh 4,7 pada bulan lalu.

Pertumbuhan sektor manufaktur ini utamanya didorong oleh teknologi tinggi. Produksi baterai litium-ion, robot industri, dan peralatan cetak 3D masing-masing melonjak signifikan sebesar 57,2, 34,6, dan 29,9 secara tahunan (year-on-year) pada bulan Agustus.

Rangkaian data yang bervariasi ini, jika digabungkan dengan indikator inflasi dan angka perdagangan yang dirilis awal bulan ini, menunjukkan bahwa jalur pertumbuhan berbentuk "K" (K-shaped growth path) menjadi semakin mengakar di negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Dalam pola ini, permintaan eksternal terlihat secara signifikan melampaui permintaan domestik.

Dilema Inflasi, Risiko Tarif, dan Prospek Stimulus

Meskipun harga di tingkat konsumen maupun harga di tingkat pabrik mengalami kenaikan tipis pada bulan Agustus, kenaikan harga tersebut utamanya disebabkan oleh guncangan pasokan (supply shocks), termasuk kenaikan harga energi akibat kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut catatan analisis dari Citi, permintaan domestik tetap berada dalam kondisi lesu. Hal ini tercermin dari lemahnya inflasi barang tahan lama konsumen serta musim liburan musim panas yang sepi. Para ekonom Citi memperingatkan bahwa inflasi dorongan biaya (cost-push inflation) berisiko menekan margin keuntungan lebih lanjut di beberapa sektor hilir.Di sisi lain, pengiriman barang ekspor China ke luar negeri melonjak lebih dari 20 pada bulan Agustus yang didorong oleh kuatnya permintaan teknologi global. Kondisi ini diperkirakan akan membawa surplus perdagangan China membengkak hingga mencapai rekor tertinggi baru tahun ini.

Namun, ekonom ING Lynn Song mengingatkan bahwa "risiko tarif dan ketahanan siklus investasi teknologi merupakan faktor kunci yang harus dipantau untuk melihat berapa lama kekuatan ekspor ini akan bertahan."

Kini publik menanti apakah pemerintah di Beijing akan mengambil langkah penambahan stimulus untuk menopang pertumbuhan domestik dalam waktu dekat, mengingat para pembuat kebijakan saat ini masih berfokus pada eksekusi kebijakan yang sudah ada.

Apabila kemerosotan investasi dan konsumsi berlanjut hingga musim dingin, para ekonom menilai Beijing dapat terdesak untuk bertindak guna memastikan target pertumbuhan ekonomi tahunan di kisaran 4,5 hingga 5 dapat tercapai.

Perhatian pasar juga tertuju pada rencana Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir bulan ini, meskipun banyak pengamat hanya mengantisipasi hasil nyata yang terbatas.

"Asumsi dasar kami tetap bahwa hubungan AS-China kemungkinan besar akan stabil alih-alih membaik atau memburuk secara material: kedua belah pihak memiliki insentif untuk menghindari eskalasi baru, tetapi persaingan strategis atas perdagangan, teknologi, dan keamanan nasional kemungkinan besar akan terus berlanjut," ungkap para ekonom Goldman Sachs dalam catatan terbarunya.

Dari indikator ketenagakerjaan, tingkat pengangguran perkotaan berdasarkan hasil survei utama China mengalami kenaikan tipis menjadi 5,3 di bulan Agustus, naik dari posisi 5,2 pada Juli.

Topik Menarik