Pimred Al-Wefaq: Iran Tidak Akan Menunggu Selesai Pemilu AS untuk Berperang
Mokhtar Haddad, pemimpin redaksi surat kabar Iran, Al-Wefaq, mengungkapkan Iran tidak akan menunggu selesainya pemilu AS untuk memulai kembali pertempuran
Ia mengatakan bahwa laporan media AS baru-baru ini—terkait pernyataan Menteri Luar Negeri AS mengenai tidak adanya serangan baru terhadap Iran—mengungkapkan strategi yang jelas untuk mengelola kebuntuan saat ini hingga melewati pemilu paruh waktu, sebelum melanjutkan aksi militer yang lebih luas.
"Dia ingin mengatakan bahwa pemilu paruh waktu itu penting bagi mereka. Mereka ingin melewati tahap ini dan kemudian memulai pertempuran," ujar Haddad kepada Al Jazeera.
Ia mengatakan Iran tidak akan menunggu sampai jadwal waktu tersebut berlalu.
"Menurut saya, Iran tidak akan tinggal diam menunggu Amerika sekadar melewati masa pemilu dan kemudian kembali melakukan pertempuran yang lebih luas," katanya.
Haddad menepis anggapan bahwa blokade dan sanksi yang diumumkan tersebut merupakan hal yang baru secara substansial.
Awalnya Merevisi, AS Umumkan 18 Tentara Tewas dan 624 Lainnya Luka dalam Perang Melawan Iran
"Itu adalah sanksi yang sama," kata Haddad, seraya menambahkan bahwa siapa pun yang memahami kebijakan AS "bisa melihat bahwa ini bukanlah hal baru."
Ia mengatakan Teheran akan merespons jika Washington gagal kembali mematuhi nota kesepahaman tersebut.
"Jika melihat bahwa Amerika tidak mematuhi ketentuan dan tidak kembali pada nota kesepahaman, Iran akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan," ujarnya, sembari menunjuk pada "perubahan dalam pandangan dan doktrin militer Iran selama periode ini" sebagai bukti sikap tersebut.Sebelumnya, Mokhtar Haddad mengungkapkan, pembicaraan yang sedang berlangsung antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz tidak boleh ditafsirkan sebagai tanda bahwa Teheran berniat membukanya kembali.
"Iran dan Kesultanan Oman telah mengupayakan hal ini sejak lama. Namun, itu tidak berarti Iran akan membuka kembali Selat Hormuz," kata Haddad kepada Al Jazeera.
Ia mengatakan Teheran tetap memisahkan kedua isu tersebut.
"Iran selalu menegaskan bahwa jalur pembicaraan ini terpisah dari isu pembukaan kembali Selat tersebut," ujar Haddad, seraya menjelaskan proses yang dimulai dengan "kesepakatan sementara, yang kemudian akan diikuti dengan pengumuman kesepakatan akhir."
Ia mengisyaratkan bahwa kesepakatan semacam itu tidak akan mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran. “Apakah itu berarti membuka kembali Selat Hormuz? Tidak, tentu saja tidak,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa “para pejabat Iran telah mengonfirmasi hal ini.”
Haddad mengatakan bahwa sikap Iran akan tetap berlaku “kecuali AS menerima syarat-syarat Iran yang tercantum dalam nota kesepahaman,” seraya menegaskan bahwa Washington “harus kembali melaksanakan nota kesepahaman tersebut” agar status selat itu dapat berubah.




