Mengapa Trump Memainkan Peran sebagai Seorang Penghibur Reality Show di Perang Iran?
Paul Musgrave, profesor pemerintahan di Georgetown University Qatar tersebut mengatakan bahwa Trump biasanya melontarkan pernyataan terutama untuk audiens AS, khususnya basis pendukungnya. Pernyataan terbaru mengenai keinginan AS menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayahnya.
Mengapa Trump Memainkan Peran sebagai Seorang Penghibur Reality Show di Perang Iran?
1. Gemar Bicara Besar
Penting untuk diingat, tambahnya, bahwa Trump adalah produk acara pertunjukan (reality show) AS dan pada dasarnya adalah seorang "penghibur" (showman). "Dia adalah sosok yang gemar bicara besar. Anda harus menanggapi ucapannya dengan serius dalam beberapa hal, namun tidak secara harfiah," ujar Musgrave memperingatkan.Trump tidak bisa ditanggapi secara harfiah, terutama dalam kasus ini, karena menjadikan selat tersebut sebagai wilayah AS adalah hal yang mustahil secara fisik maupun hukum, ujarnya. Namun, pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan tekad Trump untuk tidak mundur menghadapi Iran dan tidak menerima kekalahan dalam konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan itu, tambahnya.
Sebaliknya, menurutnya, fase baru perang ini akan ditandai dengan upaya Washington untuk menjatuhkan lebih banyak sanksi ekonomi, bahkan melancarkan perang di front lain, seperti melalui serangan siber terhadap Iran.
2. Tidak Akan Mau Mengaku Kalah
Sementara itu, Iran menunjukkan sikap "berani" dan tidak mau menerima penderitaan akibat dampak ekonomi tersebut, catat Musgrave.Sejumlah kelompok garis keras di pemerintahan enggan dikaitkan dengan istilah "negosiasi"; itulah sebabnya muncul pernyataan resmi yang menyangkal adanya pembicaraan dengan AS, meskipun mereka mengakui adanya pembicaraan dengan pihak penengah seperti Qatar dan Pakistan.Kecil kemungkinannya kedua belah pihak akan mengakui kekalahan, sehingga dalam jangka pendek hingga menengah, perang ini diperkirakan akan menemui jalan buntu, pungkasnya.
3. Mengeluarkan Retorika Bernada Ancaman
Ini bukan kali pertama pihak Iran menerima retorika bernada ancaman semacam itu dari Presiden AS Donald Trump.Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa ia akan "menuntaskan kekalahan" Iran dan "segera" menyatakan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS.
Trump telah berulang kali mengatakan bahwa jalur air vital bagi energi tersebut—yang secara efektif ditutup oleh Teheran pada awal perang Timur Tengah—berada di bawah kendali AS; sebuah klaim yang dibantah oleh republik Islam tersebut.
"Setelah kita selesai mengalahkan Iran—yang kini sedang mengalami kekalahan telak—saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," ujarnya sambil terkekeh dalam sebuah rapat umum politik di akademi kepolisian di negara bagian New York.
"Itu benar," tambahnya.
4. Dikira Serius, Ternyata Bercanda
Seorang pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya kemudian mengklarifikasi bahwa Trump hanya bercanda, demikian dilaporkan Wall Street Journal.Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, memberikan tanggapan keras pada hari Sabtu melalui unggahan di X, dengan menegaskan bahwa "Selat Hormuz adalah milik Iran, saat ini milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran.""Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka di bawah komando Iran," tambahnya.
Trump, bersama Israel, melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan membangun kendali *de facto* atas sebagian besar Selat Hormuz, sebuah jalur yang juga vital bagi pengiriman komoditas.
Amerika Serikat masih terjebak dalam kebuntuan dengan Iran terkait selat tersebut; Iran menolak akses bagi sebagian besar pelayaran sipil, sementara Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dalam upaya melumpuhkan ekonominya.
"Kita melakukan blokade. Tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali kita mengizinkannya," kata Trump di hadapan kerumunan pendukung dan polisi yang bersorak.
5. Iran Tetap Memiliki Posisi Strategis
Di sisi lain, pernyataan-pernyataan tersebut kerap berubah-ubah—beralih antara kabar kemajuan menuju perundingan dan pembicaraan mengenai kemungkinan aksi militer di masa mendatang. Pada saat yang sama, mereka melihat hal itu mewujud dalam tindakan perang yang nyata.Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa situasi terkini terkait Selat Hormuz dan masalah keamanan disebabkan oleh pergerakan militer AS.Kepala badan peradilan Iran melontarkan kecaman keras, menyebut presiden AS sebagai penjahat dan sosok yang gegabah, serta menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah milik Iran yang berlandaskan Islam.
Pada saat yang sama, wakil menteri luar negeri Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya melalui cuitan di media sosial ataupun pesawat terbang.







