Pakar Ini Sebut Iran Tetap Akan Menang Game of Economic Chicken Melawan AS
Marc Ginsberg, mantan duta besar AS dan penasihat kebijakan Timur Tengah Gedung Putih, mengatakan bahwa kampanye pemerintahan Trump saat ini terhadap Iran merupakan bentuk "adu nyali ekonomi" atau game of economic chicken yang kemungkinan besar akan dimenangkan oleh pihak lawan, bukan Washington.
Ginsberg mengatakan kepada Al Jazeera bahwa meskipun AS telah lama menggunakan taktik tekanan maksimum, situasi saat ini berbeda karena "Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang dipertaruhkan, dan Iran benar-benar terputus dari cadangan mata uang asing yang dibutuhkannya untuk menopang perekonomiannya."
Namun, ia memperingatkan bahwa Gedung Putih tidak memiliki strategi yang jelas untuk menyelesaikan kebuntuan ini.
"Situasinya adalah pemerintahan ini tidak memiliki rencana akhir end game. Kita tidak tahu apa yang direncanakan presiden," kata Ginsberg. "Satu-satunya hal yang kita ketahui adalah bahwa ia sedang terlibat dalam apa yang saya sebut sebagai kampanye ketahanan luar biasa."
Mengibaratkan kebuntuan ini seperti situasi tabrakan yang berisiko tinggi, Ginsberg meragukan kemampuan Washington untuk memaksa Teheran tunduk hanya melalui langkah-langkah ekonomi."Ini semacam permainan adu nyali ekonomi. Pihak mana yang akan lebih dulu menghindar ke pinggir jalan sebelum tabrakan terjadi?" ujarnya. "Menurut saya, pada akhirnya, pemerintahan AS-lah yang akan menyerah lebih dulu dibandingkan pemerintah Iran."
Selain itu, Dan Grazier, direktur Program Reformasi Keamanan Nasional di Stimson Center menjelaskan, Iran kemungkinan besar mampu bertahan menghadapi peningkatan tekanan ekonomi yang diancamkan Amerika Serikat—yang bertujuan memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz.
"Pihak Iran kemungkinan bisa bertahan menghadapi hal ini. Bagi Amerika Serikat, Iran telah dianggap sebagai negara paria sejak tahun 1979 dan telah dikenai berbagai sanksi selama bertahun-tahun," kata Grazier kepada Al Jazeera.
"Jadi, menarik untuk mencermati keyakinan pemerintah AS bahwa bentuk perang ekonomi kini akan menghasilkan dampak yang tidak mampu dicapai oleh serangan militer selama enam bulan terakhir."Ia mengatakan bahwa fokus Washington yang semakin besar pada tekanan ekonomi kemungkinan didorong oleh kondisi persediaan amunisi militer AS yang kabarnya kian menipis.
“Ada pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan dari pihak pemerintah. Namun, berdasarkan bukti yang ada, tampaknya militer Amerika Serikat memang kekurangan jenis amunisi jarak jauh yang diperlukan untuk melancarkan perang dari jarak jauh—yang justru merupakan strategi militer yang selama ini diterapkan Amerika Serikat dalam operasi ini,” ujar Grazier, seorang mantan perwira Korps Marinir.
“Selain itu, militer AS memiliki kewajiban lain—kewajiban terkait keamanan di berbagai belahan dunia—sehingga kita harus memastikan agar persediaan amunisi tidak sampai benar-benar habis. Jadi, kekurangan semacam itu menuntut adanya perubahan strategi. Menurut saya, itulah sebabnya pemerintah beralih ke strategi perang ekonomi seperti ini.”








