Perkembangan AI Mulai Ubah Lanskap Pekerjaan di Sektor Teknologi China
Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dinilai mulai mengubah lanskap industri teknologi di China. Sejumlah analis menilai kemajuan teknologi tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas perusahaan, tetapi juga memunculkan kekhawatiran baru mengenai masa depan jutaan pekerja di sektor teknologi.
Dalam editorial Daily Mirror, Senin (10/8/2026), disebutkan skenario masa depan ketika sebagian besar pekerjaan kantoran dapat digantikan oleh agen AI. Kemampuan AI yang terus berkembang memungkinkan satu pekerja mengelola banyak sistem AI sekaligus, sehingga kebutuhan tenaga kerja manusia berpotensi menurun secara signifikan.
Baca Juga: AI, Robot, dan Modal Negara: Taruhan Besar Xi Jinping untuk Masa Depan China
Pekerjaan berbasis pengetahuan atau mental labour, yang selama ini dianggap sulit digantikan, justru diproyeksikan lebih rentan terhadap otomatisasi dibandingkan pekerjaan fisik.
Dario Amodei, CEO dari perusahaan Anthropic, memproyeksikan dampak AI terhadap dunia kerja, termasuk di kalangan pekerja kantoran.
Jaksa ICC Karim Khan Dicopot dari Jabatannya atas Tuduhan Pelecehan Seksual Bermotif Politik
“AI dapat melenyapkan separuh dari seluruh pekerjaan kerah putih tingkat pemula—serta melonjakkan tingkat pengangguran hingga 10–20 dalam satu hingga lima tahun ke depan,” ujar Amodei, dalam keterangannya kepada Axios.
Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI untuk membantu pengembangan perangkat lunak. Berbagai alat berbasis AI kini mampu menghasilkan kode pemrograman, mempercepat proses pengujian, hingga membantu penyelesaian proyek yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu.Kondisi tersebut mulai mengubah kebutuhan perusahaan terhadap tenaga programmer. Tim yang sebelumnya memerlukan banyak insinyur perangkat lunak kini dapat menghasilkan produktivitas yang jauh lebih tinggi dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit.“Kami telah mencapai hasil yang seharusnya hanya bisa dicapai jika kami mempekerjakan tambahan sekitar 200 orang,” tutur CEO Grindr, George Arison, dalam keterangan kepada Business Insider.
Gelombang Pengurangan Karyawan
Di sisi lain, perubahan tersebut disebut telah memperbesar kecemasan di kalangan pekerja teknologi.Seorang programmer berusia 32 tahun di China mengaku kolaps karena jam kerja yang tinggi di tengah kekhawatiran pekerjaannya akan digantikan AI. Istrinya membagikan pengalaman sang suami di media sosial, dengan mengatakan bahwa jika programmer sampai ke titik seperti itu, maka “semua pencapaian yang dibanggakan selama ini seolah sia-sia.”
Terdapat juga kisah mengenai seorang perempuan yang telah hampir dua bulan menganggur setelah kehilangan pekerjaan di perusahaan teknologi besar. Awalnya, video tersebut dibuat sebagai dokumentasi mengenai pengalaman menghadapi pengangguran di usia paruh baya. Namun, kisah itu kemudian viral dan memicu diskusi luas mengenai sulitnya mencari pekerjaan baru di industri teknologi.Tekanan yang dihadapi para pekerja tidak hanya berasal dari persoalan ekonomi, tetapi juga stigma sosial. Mantan pekerja perusahaan teknologi yang sebelumnya menikmati status sosial tinggi kini harus menghadapi pertanyaan dari keluarga, tetangga, maupun rekan kerja mengenai kondisi mereka.
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Fenomena tersebut terjadi ketika industri teknologi China tengah mengalami perubahan besar. Selama bertahun-tahun, bekerja di perusahaan seperti Tencent, Alibaba, atau ByteDance dianggap sebagai jalur menuju kehidupan kelas menengah dengan pendapatan tinggi.
Namun, di balik prospek tersebut, budaya kerja "996"—bekerja pukul 09.00 hingga 21.00 selama enam hari dalam seminggu—telah lama menuai kritik karena dinilai membebani kesehatan pekerja.
Jika sebelumnya banyak programmer di China mengeluhkan jam kerja yang panjang, kini sebagian dari mereka justru kehilangan kesempatan untuk tetap bekerja karena meningkatnya efisiensi yang didorong teknologi AI.
Gelombang pengurangan karyawan yang terjadi di sejumlah perusahaan teknologi besar di China dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi sorotan. Ribuan pekerja telah kehilangan pekerjaan seiring penyesuaian bisnis dan meningkatnya pemanfaatan teknologi otomatisasi.Kondisi tersebut membuat banyak pekerja mempertanyakan keberlanjutan karier mereka.
“Apa yang saya butuhkan saat ini bukan pekerjaan baru, tapi sebuah format untuk bertahan hidup,” ujar seorang programmer berusia 35 tahun yang diberhentikan dari ByteDance.
Perkembangan AI dan Taraf Hidup Masyarakat
Sejumlah kisah pekerja lain juga menjadi sorotan, mulai dari lulusan universitas ternama yang telah berbulan-bulan menganggur, hingga pekerja muda yang baru memulai karier tetapi sudah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).Pekerja berusia di atas 35 tahun di China menghadapi tekanan yang lebih besar karena harus menanggung cicilan rumah, biaya pendidikan anak, serta meningkatnya biaya hidup. Sementara itu, pekerja yang lebih muda juga tidak sepenuhnya aman karena tingginya persaingan dan cepatnya perubahan kebutuhan industri.
Saat ini banyak perusahaan lebih berhati-hati merekrut pegawai tetap dan semakin mengandalkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi. Sejumlah pencari kerja mengaku hanya memperoleh wawancara singkat sebelum akhirnya ditolak, sementara sebagian lainnya kehilangan pekerjaan setelah bertahun-tahun mengabdi di perusahaan yang sama.Meski demikian, persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh perkembangan AI. Perlambatan ekonomi, restrukturisasi perusahaan teknologi, serta perubahan strategi bisnis juga dinilai turut mempercepat gelombang PHK di sektor tersebut.
Iran Desak Warga di Negara-negara Teluk Jaga Jarak 500 Meter dari Akomodasi Rahasia Pasukan AS
Perbedaan budaya kerja antara industri teknologi China dengan Amerika Serikat juga berkontribusi. Sistem kerja yang kompetitif di China membuat pekerja menghadapi tekanan lebih besar, terutama ketika perusahaan mulai mengurangi jumlah karyawan.
Pada akhirnya, disebutkan bahwa dampak terbesar dari perubahan tersebut justru dirasakan kelompok kelas menengah yang selama ini membangun kehidupan berdasarkan asumsi bahwa pekerjaan di industri teknologi akan memberikan stabilitas jangka panjang.
Banyak keluarga di China kini menghadapi risiko penurunan taraf hidup akibat hilangnya pekerjaan dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
Meski sejumlah prediksi mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja masih menjadi perdebatan, perkembangan teknologi telah memaksa industri teknologi memasuki fase baru. Tantangannya bukan hanya bagaimana memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga memastikan transformasi tersebut tidak meninggalkan jutaan pekerja yang selama ini menjadi tulang punggung industri digital China.




