Pakistan merupakan satu dari sedikit negara di dunia yang memiliki senjata nuklir. Meski Amerika Serikat dikenal sebagai pendukung kuat rezim nonproliferasi nuklir, Washington justru tidak pernah memaksa Islamabad melucuti seluruh persenjataan nuklirnya. Sikap ini berbeda dengan kebijakan AS terhadap Iran atau Korea Utara.
Apalagi, banyak negara-negara Arab, seperti Arab Saudi ikut bergabung dengan payung nuklir Pakistan. "Meskipun Pakistan berhati-hati untuk menekankan bahwa mereka tidak memberikan payung nuklir kepada Arab Saudi, perjanjian tersebut menandakan pencegahan regional dan kemampuan kedua negara untuk berkolaborasi melawan lawan," kata Samina Yasmeen, pakar geopolitik dari Universitas Western Australia, dilansir The Conversation.
Perjanjian tersebut diikuti oleh Perjanjian Pertahanan Strategis antara Arab Saudi dan AS selama kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ke Washington pada November 2025. Bahkan, yang terbaru adalah Kuwait juga ingin ikut bergabung.
Lantas, mengapa Amerika tampak lebih lunak terhadap Pakistan?
1. Pakistan adalah Sekutu Strategis Amerika
Sejak era Perang Dingin, Pakistan telah menjadi mitra penting Amerika Serikat. Ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan pada 1979, Pakistan menjadi pangkalan utama bagi operasi AS dalam mendukung kelompok Mujahidin. Hubungan itu kembali menguat setelah serangan 11 September 2001. Dalam perang melawan terorisme, Pakistan menjadi jalur logistik dan mitra intelijen utama bagi operasi militer Amerika di Afghanistan. Karena alasan tersebut, Washington memilih menjaga hubungan dengan Islamabad daripada mengambil langkah yang berpotensi memutus kerja sama strategis.
2. Pakistan Sudah Terlalu Jauh Memiliki Nuklir
Pakistan resmi menjadi negara bersenjata nuklir setelah melakukan uji coba pada Mei 1998 sebagai respons atas uji coba nuklir India. Sejak saat itu, Amerika menyadari bahwa peluang memaksa Pakistan menyerahkan senjata nuklirnya nyaris mustahil. Fokus Washington pun berubah, bukan lagi menghentikan program nuklir, melainkan memastikan senjata tersebut tetap aman dan tidak jatuh ke tangan kelompok teroris.
3. Menjaga Keseimbangan Kekuatan dengan India
India dan Pakistan telah lama menjadi rival, terutama sejak kedua negara merdeka pada 1947. Kepemilikan senjata nuklir oleh kedua negara justru dianggap menciptakan efek deterrence atau saling menghalangi untuk memulai perang besar. Amerika khawatir jika hanya Pakistan yang ditekan, keseimbangan militer di Asia Selatan akan terganggu dan meningkatkan risiko konflik terbuka.
4. Pakistan Terlalu Penting untuk Dibiarkan Tidak Stabil
Dengan populasi lebih dari 240 juta jiwa, Pakistan merupakan salah satu negara Muslim terbesar di dunia sekaligus pemilik senjata nuklir. Bagi Amerika, ancaman terbesar bukan hanya keberadaan nuklir Pakistan, melainkan kemungkinan negara itu mengalami kekacauan politik sehingga persenjataan nuklirnya berisiko direbut kelompok ekstremis. Karena itulah Washington lebih memilih bekerja sama dalam pengamanan fasilitas nuklir Pakistan dibanding mendorong pelucutan senjata secara paksa.
5. Pengaruh China Membuat Amerika Berhitung
Dalam dua dekade terakhir, hubungan Pakistan dan China semakin erat. Beijing menjadi investor terbesar melalui proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) yang bernilai puluhan miliar dolar. Amerika menyadari bahwa tekanan berlebihan terhadap Pakistan justru bisa membuat Islamabad semakin dekat dengan Beijing. Oleh karena itu, Washington cenderung mengambil pendekatan yang lebih pragmatis. Amerika Pernah Menjatuhkan Sanksi Meski terlihat lunak, Amerika sebenarnya pernah memberikan sanksi kepada Pakistan. Pada 1990, Washington menghentikan bantuan militer melalui Pressler Amendment karena program nuklir Pakistan. Setelah uji coba nuklir tahun 1998, sanksi ekonomi kembali dijatuhkan. Namun sebagian besar sanksi tersebut mulai dilonggarkan setelah tragedi 11 September 2001 karena Amerika membutuhkan dukungan Pakistan dalam operasi militer di Afghanistan. Amerika Serikat bukan berarti menyetujui kepemilikan senjata nuklir Pakistan. Namun, kepentingan geopolitik membuat Washington memilih bersikap realistis. Bagi Amerika, menjaga Pakistan tetap stabil, mempertahankan kerja sama keamanan, mengimbangi pengaruh China, serta mencegah senjata nuklir jatuh ke tangan kelompok ekstremis dinilai jauh lebih penting daripada memaksakan pelucutan senjata yang peluang keberhasilannya sangat kecil. Keputusan inilah yang membuat Pakistan hingga kini tetap menjadi salah satu negara berkekuatan nuklir, meski bukan penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).