AS Diam-diam Tarik 10 Jet Tempur Siluman F-22 Raptor, Mundur dari Perang Iran

AS Diam-diam Tarik 10 Jet Tempur Siluman F-22 Raptor, Mundur dari Perang Iran

Global | sindonews | Minggu, 12 Juli 2026 - 12:42
share

Militer Amerika Serikat (AS) diam-diam telah menarik 10 jet tempur siluman F-22 Raptor dari Pangkalam Udara Ovda di Israel ke RAF Fairford di Inggris pada Jumat pagi. Sekelompok pesawat tempur canggih itu resmi mundur dari perang melawan Iran, yang dikenal dengan nama sandi Operasi Epic Fury.

Mengutip laporan dari The War Zone, Minggu (12/7/2026), penarikan pesawat militer AS dari misi Operasi Epic Fury bukan sekali ini terjadi. Pada 1 Juli, misalnya, pesawat-pesawat pengebom B-52 Stratofortress Angkatan Udara AS ditarik dari RAF Fairford, tempat mereka dikerahkan untuk perang melawan Iran. Jet taktis lainnya juga telah kembali ke pangkalannya, dengan beberapa digantikan dan yang lainnya tidak.

Baca Juga: Iran Balas Serang Pangkalan AS di Qatar, Bahrain, dan UEA

Pengamat militer di Inggris mengatakan jet-jet tempur F-22 tiba di RAF Fairford dalam tiga gelombang. Seorang fotografer penerbangan yang menggunakan akun @Saint1Mil di X membagikan tiga foto terkait keberadaan pesawat-pesawat tempur siluman Amerika itu.

Komando Pusat AS atau CENTCOM tidak mengonfirmasi penarikan 10 jet tempur F-22 Raptor dari perang melawan Iran. Namun, CENTCOM mengakui perang pesawat-pesawat itu dalam perang.

"Selama Epic Fury, Raptor melaksanakan misi presisi terhadap pertahanan udara Iran, infrastruktur terkait nuklir, dan simpul komando yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC),” tulis CENTCOM dalam publikasi Citadel-nya.“Pada 1 Maret, F-22 membuka kampanye dengan menekan baterai S-300 dan Bavar-373, membersihkan koridor untuk pesawat tempur koalisi selanjutnya yang memasuki wilayah udara yang dipertahankan,” imbuh komando tersebut.

"Antara 1 hingga 9 Maret, pesawat tempur siluman tersebut menerbangkan lebih dari 200 sorti tempur sambil tetap tidak terdeteksi oleh jaringan radar Iran sepanjang operasi,” jelas CENTCOM. “Pesawat F-22 Raptor menggunakan desain siluman dan sensor canggihnya untuk menembus wilayah udara yang dijaga ketat dan mengirimkan senjata presisi terhadap fasilitas strategis rezim Iran selama kampanye tersebut.”

Menurut CENTCOM, target-target tersebut termasuk infrastruktur yang terhubung dengan Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordow dan Fasilitas Nuklir Natanz. "Raptor menggunakan GBU-39/B Small Diameter Bombs dan GBU-32 Joint Direct Attack Munitions secara internal, mempertahankan [mode] siluman sambil menyerang beberapa target yang diperkuat dengan panduan presisi," papar CENTCOM.

Kedatangan pesawat-pesawat Raptor di RAF Fairford dari Pangkalan Ovda terjadi ketika AS dan Iran meningkatkan serangan satu sama lain minggu ini. Iran juga menyerang target di Bahrain, Kuwait, dan Yordania sebagai balasan atas serangan AS yang dipicu oleh serangan pihak Teheran terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz.

Sementara itu, AS kembali menyerang wilayah Iran pada Minggu (12/7/2026) dini hari—serangan putaran ketiga dalam sepekan dengan dalih merespons serangan IRGC Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz. CENTCOM merilis rekaman video serangan rudal yang diklaim menghantam sekitar 140 situs militer Iran. Rekaman tersebut menunjukkan pasukan AS menggunakan amunisi presisi yang diluncurkan dari pesawat tempur berbasis darat dan laut, drone, serta dari kapal Angkatan Laut untuk menyerang fasilitas rudal dan drone Iran. Selain itu, target serangan lainnya mencakup kemampuan Angkatan Laut, lokasi penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, dan lokasi pengawasan pantai Iran.

Menurut CENTCOM, pasukan AS telah menyerang lebih dari 300 target di Iran selama tiga malam operasi, yang diklaim sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi kemampuan Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melewati Selat Hormuz.

Sebaliknya, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan AS di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Ledakan terdengar di atas ibu kota Qatar, Doha, di mana jurnalis AFP melaporkan melihat pencegatan rudal menerangi langit gelap. Para warga juga menerima peringatan darurat di ponsel mereka yang menginstruksikan mereka untuk tetap berada di dalam rumah.

Sirene peringatan rudal juga meraung-raung di seluruh Bahrain, tempat markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Uni Emirat Arab juga mengeluarkan peringatan publik tentang serangan rudal dan drone yang segera datang. Pihak berwenang tidak segera mengidentifikasi lokasi yang menjadi sasaran di UEA atau pun melaporkan kemungkinan korban jiwa.

Topik Menarik