Eks Jubir Rumah Sakit Israel: Dokter Zionis Selamatkan Nyawa Erdogan atas Permintaan Mossad
Seorang mantan juru bicara rumah sakit (RS) besar Israel melontarkan klaim mengejutkan, yakni seorang dokter Zionis Israel pernah dikirim ke Turki atas permintaan Mossad dan dengan persetujuan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu untuk menyelamatkan nyawa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan setelah dia menderita kanker.
Avi Shushan, yang menjabat sebagai juru bicara Tel Aviv Sourasky Medical Center, yang dikenal sebagai Ichilov Hospital, menyampaikan klaim tersebut pada Selasa lalu di Channel 14, sebuah stasiun televisi Israel, ketika para panelis membahas rekaman video Erdogan di KTT NATO di Ankara.
Baca Juga: Erdogan Beri Hadiah Pistol dengan Peluru Aktif kepada Para Pemimpin NATO, Ini Maksudnya
Menurut Shushan, Erdogan sakit parah sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu dan bahwa seorang dokter Ichilov yang tidak disebutkan namanya melakukan perjalanan ke Turki. "Sebagai perwakilan Negara Israel, atas permintaan Mossad dan dengan persetujuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu," katanya, seperti dikutip dari Turkish Minute, Minggu (12/7/2026).
Mossad adalah badan intelijen Israel untuk operasi asing.
Erdogan menjalani dua operasi usus pada akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012. Tim dokternya, menurut Channel 14, mengatakan mereka telah mengangkat polip non-kanker, sementara Erdogan membantah laporan bahwa dia menderita kanker.Shushan mengatakan media Israel meminta konfirmasi kapan perawatan yang dimaksud itu terjadi, tetapi dia menolak untuk membahasnya pada saat itu.“Orang ini, yang hari ini mengancam orang Yahudi, masih hidup dan bernapas berkat seorang Yahudi, berkat seorang Israel, berkat Benjamin Netanyahu dan berkat David Barnea,” kata Shushan, merujuk pada mantan direktur Mossad, yang masa jabatannya berakhir pada Juni lalu.
Media-media Israel melaporkan pada tahun 2022 bahwa Erdogan menerima nasihat medis dari Profesor Itzhak Shapira, yang saat itu menjabat sebagai wakil direktur Ichilov Hospital dan kepala program wisata medisnya.
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
Pemerintah Turki telah memperlakukan spekulasi tentang kesehatan Erdoğan sebagai masalah kriminal. Polisi meluncurkan proses hukum terhadap 30 pengguna media sosial pada November 2021 setelah unggahan-unggahan tersebut menyatakan bahwa dia telah meninggal.
Hubungan Turki dengan Israel telah lama menggabungkan konfrontasi politik dengan hubungan militer, intelijen, energi, dan perdagangan. Kedua negara memulihkan hubungan diplomatik penuh pada tahun 2022 sebelum menarik duta besar setelah Israel memulai serangannya terhadap Gaza pada Oktober 2023.
Erdogan menuduh Israel melakukan genosida dan Turki menghentikan perdagangan langsung dengan rezim Zionis pada Mei 2024. Ankara ikut bergabung dengan Afrika Selatan dalam menggugat Israel dalam kasus genosida Palestina yang diajukan di Mahkamah Internasional.
Sebuah laporan tahun 2025 kepada Majelis Umum PBB oleh Pelapor Khusus Francesca Albanese, berjudul “Genosida Gaza: kejahatan kolektif", menempatkan Turki dalam sistem dukungan negara ketiga yang lebih luas yang memungkinkan genosida Israel di Gaza. Laporan tersebut menyatakan bahwa beberapa perdagangan berlanjut secara tidak langsung, mengidentifikasi pelabuhan Turki sebagai titik transit untuk minyak dan barang lainnya, dan mendesak negara-negara untuk menangguhkan hubungan militer, perdagangan, dan diplomatik dengan Israel.









