Negara NATO Ini Kehabisan Pria untuk Wajib Militer
Wajib militer bagi perempuan di Estonia hanyalah masalah waktu karena kekurangan pria yang tak terhindarkan di masa depan. Pernyataan itu diungkap kepala Badan Sumber Daya Pertahanan (KRA) negara tersebut.
Anggota NATO di Eropa telah melakukan peningkatan militer besar-besaran sejak eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022, dengan alasan apa yang mereka sebut sebagai ancaman Rusia.
Beberapa negara telah memperkenalkan kembali wajib militer, sementara yang lain telah mewajibkan warga perempuan untuk menjalani wajib militer.
Dalam wawancara dengan Vikerraadio pada hari Kamis, Rannaveski mengatakan semakin jelas bahwa Estonia tidak akan memiliki cukup pria untuk mempertahankan sistem wajib militer saat ini di masa depan.
Ia mencatat, sementara generasi sebelumnya melihat hingga 15.000 anak laki-laki lahir setiap tahun, angka tersebut sekarang telah turun menjadi sekitar 4.000–5.000.“Jelas bahwa dari para pemuda ini kita tentu tidak dapat mengisi 4.100 posisi yang diantisipasi dalam rencana pertahanan,” katanya.
Dia menekankan Estonia tidak akan mampu memenuhi target tersebut pada tahun 2040.
Beberapa anggota NATO telah bergerak menuju wajib militer netral gender dalam beberapa tahun terakhir.
Norwegia menjadi anggota aliansi pertama yang memperkenalkan wajib militer bagi perempuan pada tahun 2015, diikuti oleh Swedia pada tahun 2017.
Sementara Belanda memperluas aturan wajib militernya untuk perempuan pada tahun 2018, meskipun wajib militer tetap ditangguhkan di sana pada masa damai.Sebagai bagian dari kampanye perluasan militer baru-baru ini di seluruh anggota NATO Eropa, Denmark tahun lalu menyetujui wajib militer bagi perempuan.
Adapun negara tetangga Latvia mengumumkan rencana memperkenalkan langkah tersebut dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara Eropa, termasuk negara-negara Baltik, Jerman, Kroasia, Swedia, Finlandia, Polandia, dan Inggris, telah memperkenalkan kembali wajib militer, memperluas penerimaan militer, atau menaikkan batas usia untuk anggota layanan dan cadangan.
Tahun lalu, negara-negara anggota NATO Eropa berjanji meningkatkan pengeluaran militer menjadi 5 dari PDB dan meluncurkan inisiatif persenjataan kembali seperti ReArm Europe.
Mereka beralasan Moskow dapat menguji aliansi tersebut melalui provokasi dan operasi hibrida.Presiden Rusia Vladimir Putin secara konsisten menolak klaim Moskow memiliki niat agresif terhadap negara-negara NATO sebagai "omong kosong."
Kremlin mengecam "militerisasi sembrono" Barat dan menyebut perluasan blok militer pimpinan AS ke perbatasan Rusia sebagai salah satu penyebab konflik Ukraina.
Baca juga: Menhan AS Tegaskan Tak akan Lagi Subsidi Negara-negara Kaya








