Arab Saudi Usul Pakta Non-Agresi Iran dan Negara-negara Teluk seperti Perjanjian Perang Dingin

Arab Saudi Usul Pakta Non-Agresi Iran dan Negara-negara Teluk seperti Perjanjian Perang Dingin

Global | sindonews | Jum'at, 15 Mei 2026 - 11:15
share

Kerajaan Arab Saudi telah mengusulkan pakta non-agresi antara Iran dan negara-negara Teluk seperti Kesepakatan Helsinki 1975 yang meredakan ketegangan di Eropa selama Perang Dingin. Usulan kerajaan itu diungkap The Financial Times dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Kamis.

Upaya Arab Saudi telah mendapatkan dukungan dari negara-negara dan lembaga-lembaga di Uni Eropa. Hanya saja, belum jelas apakah Israel dan Amerika Serikat (AS) akan mendukungnya.

Baca Juga: Selain UEA, Arab Saudi Gelar Serangan Terselubung ke Iran saat Perang 40 Hari

Uni Emirat Arab (UEA) telah mengambil posisi garis keras terhadap Iran dan bergerak jauh lebih dekat dengan Israel sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai 28 Februari lalu.

Arab Saudi mencontohkan kerangka kerjanya pada Kesepakatan Helsinki 1975, yang ditandatangani oleh Uni Soviet dan AS serta dengan negara-negara Eropa.

 

Perjanjian tersebut mengamankan penerimaan bersama atas perbatasan Eropa pasca-Perang Dunia II. Para penandatangan juga sepakat untuk menghormati hak asasi manusia (HAM) dan bekerja sama dalam masalah ekonomi, ilmiah, dan kemanusiaan.Seorang diplomat Arab mengatakan kepada The Financial Times bahwa perjanjian serupa untuk Timur Tengah akan disambut baik oleh sebagian besar negara Arab dan Muslim, serta oleh Iran. Iran telah menyerukan negara-negara Teluk untuk menutup pangkalan militer AS di wilayah tersebut.

Israel kemungkinan akan menentang perjanjian formal apa pun yang berupaya mengurangi ketegangan antara negara-negara Arab dan Iran. Tidak jelas juga apakah AS akan mendukung langkah tersebut.

Tidak jelas juga bagaimana perjanjian tersebut akan menangani isu-isu sensitif seperti Selat Hormuz. Teheran ingin menggunakan pengaruhnya atas jalur perairan tersebut dan telah memberlakukan sistemnya sendiri untuk menavigasi selat penting tersebut, termasuk pungutan tol.

Teluk Terpecah, Perundingan Damai Buntu

Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya melobi AS untuk tidak menyerang Iran, sebagian karena mereka percaya perang akan membuat Iran babak belur tetapi semakin berani, dengan Republik Islam masih berkuasa.

Sebuah laporan Badan Intelijen Pusat AS atau CIA menunjukkan bahwa itulah yang terjadi. Dokumen intelijen tersebut mengatakan Iran mempertahankan sebagian besar persenjataan rudal balistik pra-perangnya, dan rezim Teheran tidak menunjukkan tanda-tanda akan runtuh.Teluk telah terpecah mengenai bagaimana menanggapi perang tersebut. Iran menghujani negara-negara Teluk dengan ribuan drone dan rudal meskipun mereka berupaya mencegah konflik. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump melobi negara-negara Teluk untuk bergabung dalam perang melawan Iran.

Reuters melaporkan pekan ini bahwa Arab Saudi diam-diam melancarkan serangan terhadap Iran pada bulan Maret. UEA juga melancarkan serangan serupa, tetapi respons Abu Dhabi lebih agresif.

Di sisi lain, Arab Saudi juga mendukung upaya mediasi oleh mitra dekatnya, Pakistan, namun ditentang oleh UEA. Perundingan antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan telah terhenti.

UEA dan Arab Saudi juga memiliki posisi yang berbeda mengenai Israel.

Sementara suara-suara yang dekat dengan keluarga Kerajaan Arab Saudi mengkritik Israel, UEA justru semakin mendekat kepada rezim Zionis.

Israel mengirimkan baterai Iron Dome ke UEA selama perang, menurut duta besar AS untuk Israel, Mike Huckabee. Sedangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan rahasia selama masa perang ke negara kecil di Teluk tersebut, menurut kantornya pada hari Rabu. Namun, Abu Dhabi membantah bahwa kunjungan rahasia tersebut terjadi.

Topik Menarik