Jurnalis AS Sebut Iran Menang dengan Tidak Kalah, Begini Maksudnya
Banyak yang percaya perang di Timur Tengah akan berlangsung cepat, tetapi sudah lebih dari 40 hari kampanye militer Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran dan lintasan perang telah membingungkan apa yang diprediksi oleh para pembuat kebijakan Washington. Demikian disampaikan jurnalis ternama AS-Inggris, Mehdi Hasan.
Hasan, pemimpin redaksi yang juga CEO Zeteo, mengatakan kepada NDTV bahwa Iran belum runtuh meskipun menghadapi dua musuh bersenjata nuklir sekaligus.
Baca Juga: 'UEA Tak Lagi Butuh AS, Pangkalan Amerika Itu Beban dan Bukan Aset'
AS sudah jelas menjadi salah satu pemilik senjata nuklir terbesar di dunia. Namun, Israel selama ini mengadopsi kebijakan ambigu yang tidak mengonfirmasi maupun menyangkal bahwa ia memiliki senjata nuklir. Selain Hasan, banyak pakar militer juga meyakini rezim Zionis Israel adalah satu-satunya negara bersenjata nuklir di Timur Tengah.
"Iran sedang menang saat ini. Kekuatan yang lebih lemah dalam setiap perjuangan, baik itu gerakan gerilya atau negara yang lebih kecil, menang dengan tidak kalah. Hanya dengan tidak kalah, Anda menang," kata Hasan, menjelaskan narasi "Iran menang dengan tidak kalah"."Iran sedang melawan kekuatan militer terbesar dalam sejarah umat manusia, negara terkaya di Bumi, negara dengan senjata nuklir," paparnya. "Dan Israel, juga negara lain dengan senjata nuklir," imbuh Hasan, yang dilansir Selasa (21/4/2026). "Ini adalah pencapaian fenomenal, apa pun pendapat Anda tentang Iran atau pemerintah ini, bahwa negara ini telah bertahan selama ini," sambung jurnalis berkewarganegaraan ganda AS-Inggris tersebut.
Dia mengutip contoh Ukraina untuk membandingkan situasi dengan Iran. "Ada kemiripan dengan Ukraina di sini, invasi total oleh negara yang jauh lebih kuat. Orang-orang mengira Ukraina akan ditaklukkan. Akan ada tank-tank Rusia di Kyiv pada hari kedua," katanya.
"Ukraina selamat, dan Iran melakukan hal yang sama dengan dukungan eksternal yang jauh lebih sedikit," kata Hasan. "Sedikit dukungan dari China dan Rusia. Tapi Iran tetap bertahan."
"Perang Iran-Irak berlangsung selama delapan tahun. Rakyat Iran bertahan selama delapan tahun melawan Saddam Hussein, senjata kimianya, dukungannya dari Prancis, Jerman, Inggris, AS, dan Italia," kata Hasan.
Menurutnya, almarhum mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan sangat enggan menandatangani perjanjian gencatan senjata pada tahun 1988 setelah mereka kehilangan sekitar setengah juta warga Iran."Anggapan bahwa Iran akan menyerah pada minggu pertama atau bulan pertama perang ini mencerminkan ketidaktahuan sejarah yang lengkap," kata Hasan kepada NDTV, menambahkan, "Orang-orang di lingkaran kebijakan Amerika memiliki ketidaktahuan sejarah yang lengkap."
Menunjuk pada masalah nuklir dan pergeseran signifikan dalam tuntutan Amerika, Hasan mengatakan Iran selama beberapa dekade mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk tujuan domestik daripada persenjataan.
Perjanjian nuklir era Barack Obama tahun 2015 mengizinkan pengayaan hingga 3,67 persen. Ketika Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian itu pada tahun 2018, tingkat pengayaan Iran meningkat secara stabil. "Sekarang berada di angka 60 persen, sangat dekat dengan apa yang dibutuhkan untuk membangun senjata," kata Hasan.
Tuntutan pemerintahan Trump untuk nol pengayaan dan penghapusan stok uranium yang ada dari tanah Iran merupakan penyimpangan dari keadaan bahkan setahun yang lalu. "Donald Trump mengatakan mereka harus dilarang memiliki senjata," katanya.
"Dia tidak pernah mengatakan apa pun tentang nol pengayaan," ujar Hasan. "Itu adalah tuntutan Israel, yang sekarang telah menjadi tuntutan Amerika. Dan itu tidak akan berhasil bagi Iran."Bahkan konsesi sebagian seperti pengiriman uranium yang diperkaya ke pihak ketiga yang netral tidak akan menyelesaikan masalah mendasar, kata Hasan. "Kenyataannya adalah mereka akan mempertahankan hak untuk memperkaya uranium, dan mereka akan selalu mencoba melakukannya," imbuh dia.
Menurutnya, selama para ilmuwan, kapasitas industri, dan niat tetap ada, serangan militer tidak dapat secara permanen menghilangkan program nuklir Iran.
"Inilah mengapa orang-orang seperti saya pada dasarnya menentang tindakan militer sejak awal bukan hanya karena itu ilegal dan tidak bermoral serta membunuh warga sipil dan mengacaukan dunia, tetapi karena itu bukan solusi dalam hal perlucutan senjata nuklir," paparnya.
Sementara itu, Iran mengandalkan Selat Hormuz sebagai kartu utamanya dalam negosiasi perdamaian apa pun dengan AS, tetapi menggunakan jalur air tersebut sebagai alat tawar-menawar bukanlah tanpa risiko bagi republik Islam tersebut.
Meskipun menyebabkan penderitaan ekonomi global memberi Iran daya tawar dalam negosiasi, mereka tidak dapat sepenuhnya menghindari dampak negatifnya, dengan blokade AS menghentikan ekspor minyak senilai puluhan juta dolar AS setiap hari.
Dengan gencatan senjata selama dua minggu dalam perang yang akan berakhir minggu ini, konflik yang kembali terjadi di selat tersebut juga akan mengguncang kepemimpinan yang sedang berusaha menemukan pijakannya di bawah pemimpin tertinggi yang baru, putra Khamenei, Mojtaba, yang belum muncul di depan umum.
"Selat itu berada di bawah kendali Republik Islam," kata Mohammad Bagher Ghalibaf, veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sekarang menjabat sebagai ketua parlemen Iran dan dipandang sebagai negosiator utama dalam pembicaraan dengan AS.










