Netanyahu Terkejut Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus dengan Palu Godam

Netanyahu Terkejut Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus dengan Palu Godam

Global | sindonews | Selasa, 21 April 2026 - 07:45
share

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengecam tindakan tentara militer Israel atau IDF yang menghancurkan patung Yesus Kristus dengan palu godam di sebuah desa Kristen di Lebanon selatan. Dia mengaku terkejut dan sedih mengetahui tindakan penistaan agama tersebut.

Sebuah foto yang viral menunjukkan seorang tentara IDF menghantam bagian kepala patung Yesus setelah jatuh dari salib. Otoritas Israel telah mengonfirmasi keaslian foto itu.

Baca Juga: Viral Foto Tentara Israel Hantam Patung Yesus dengan Palu Godam, Ini Respons IDF

Dalam unggahan X pada hari Senin, Netanyahu mengecam tindakan tentara Israel tersebut "dengan sekeras-kerasnya". Respons Netanyahu disampaikan setelah aksi vandalisme tentara Zionis itu memicu kemarahan komunitas Kristen di berbagai negara.

Dia mengumumkan bahwa otoritas militer sedang melakukan penyelidikan kriminal dan bahwa pelaku akan dikenai tindakan disiplin yang keras.

"Kemarin, seperti mayoritas besar warga Israel, saya terkejut dan sedih mengetahui bahwa seorang tentara IDF merusak ikon keagamaan Katolik di Lebanon selatan," tulisnya.

"Israel, sebagai negara Yahudi, menjunjung tinggi nilai-nilai yang didasarkan pada toleransi dan saling menghormati di antara pengikut semua agama," lanjut dia.

Namun, dalam unggahannya, dia menyalahkan umat Islam atas kekerasan terhadap komunitas Kristen di Lebanon."Sementara umat Kristen dibantai di Suriah dan Lebanon oleh umat Muslim, populasi Kristen di Israel berkembang pesat tidak seperti di tempat lain di Timur Tengah," klaim Netanyahu.

Foto aksi vandalisme tentara Israel itu pertama kali diunggah di media sosial oleh Younis Tirawi, yang menyebut dirinya sebagai jurnalis Palestina. Insiden itu terjadi di Debl, sebuah desa Kristen yang terletak sekitar 6 kilometer dari perbatasan Lebanon dengan Israel.

Perusakan patung Yesus Kristus itu juga memicu perdebatan sengit di X antara pemerintah Israel dan Wakil Perdana Menteri Polandia Radosław Sikorski.

Sikorski memuji Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar karena meminta maaf atas penistaan patung Yesus, dengan menyatakan; "Bagus bahwa Menteri Sa'ar meminta maaf dengan cepat."

Namun, dia kemudian menyatakan bahwa Israel harus belajar dari insiden tersebut. "Tentara IDF sendiri mengakui kejahatan perang. Mereka tidak hanya membunuh warga sipil Palestina tetapi bahkan sandera mereka sendiri," paparnya, yang tampaknya merujuk pada operasi besar Israel di Gaza di mana lebih dari 70.000 warga Palestina tewas serta sandera Israel—korban sampingan dari serangan udara dan darat.

Serangan selama dua tahun itu dilakukan sebagai respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sa'ar menanggapi dengan menuduh Sikorski menyebarkan "pernyataan yang memfitnah" tentang IDF.

Awalnya, Sa'ar menulis di X: "Perusakan simbol keagamaan Kristen oleh seorang tentara IDF di Lebanon selatan adalah hal yang serius dan memalukan, kami meminta maaf atas insiden ini dan kepada setiap orang Kristen yang perasaannya terluka."Dalam unggahan selanjutnya, dia menolak komentar Sikorski sebagai "serius, tidak berdasar, dan memfitnah IDF".

“IDF adalah tentara yang profesional dan beretika...Tidak ada tentara serius dari negara demokrasi Barat mana pun yang tidak berusaha belajar dari IDF dan pengalamannya," klaim Sa'ar.

Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, juga mengutuk penistaan patung Yesus yang terjadi di Lebanon selatan, menyerukan “konsekuensi yang cepat, keras, dan terbuka.”

Diperkirakan sekitar 30 penduduk Lebanon beragama Kristen, dan juga satu-satunya negara di Timur Tengah di mana kekuasaan dibagi antara penduduk Muslim (Syiah dan Sunni) dan Kristen—di bawah apa yang dikenal sebagai Pakta Nasional.

Lebanon adalah rumah bagi berbagai minoritas Kristen, termasuk Katolik Maronit—yang sebelumnya merupakan mayoritas di negara itu, tetapi sekarang menjadi minoritas—, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani Melkit, dan Apostolik Armenia.

Seperti komunitas agama lain di Lebanon, banyak umat Kristen mendapati diri mereka terjebak dalam baku tembak selama perang Israel melawan kelompok militan Syiah Hizbullah.

Insiden terbaru ini berisiko semakin meningkatkan ketegangan antara Israel dan Lebanon, di tengah gencatan senjata yang rapuh, yang mulai berlaku Kamis lalu.Konflik yang telah berlangsung lama antara Israel dan milisi Lebanon, Hizbullah, kembali memanas pada 2 Maret, dalam konteks yang lebih luas dari kampanye militer AS dan Israel melawan Iran, yang diluncurkan pada 28 Februari.

Hizbullah, yang didukung oleh Iran, menembakkan roket ke Israel atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, yang mendorong negara Yahudi itu untuk membalas dengan operasi udara dan darat skala besar.

Lebih dari 2.000 orang telah tewas di Lebanon sejak permusuhan yang kembali memanas, sementara ribuan orang telah mengungsi dari rumah mereka, termasuk orang-orang Kristen.

Meskipun ada gencatan senjata, konfrontasi antara IDF dan Hizbullah terus berlanjut di zona penyangga antara Lebanon selatan dan Israel.

IDF dilaporkan terus menghancurkan bangunan di daerah tersebut, memperingatkan banyak penduduk untuk tidak kembali ke rumah mereka atau mendekati daftar desa yang telah ditentukan pada hari Senin.

Dalam insiden kontroversial lain yang melibatkan Gereja, Pastor Pierre Al-Rahi tewas pada 9 Maret ketika sebuah tank Israel menembaki sebuah rumah yang terletak di desa Qlayaa, di perbatasan selatan Lebanon.

Paus Leo XIV dari Vatikan bereaksi terhadap kematiannya dengan menyatakan "kesedihan mendalamnya atas semua korban pengeboman di Timur Tengah selama beberapa hari terakhir" termasuk "Pastor Pierre El-Rahi, seorang imam Maronit yang tewas sore ini di Qlayaa."Secara terpisah, otoritas Israel mencegah Patriark Latin Yerusalem memasuki Gereja Makam Suci untuk merayakan Misa Minggu Palma untuk "pertama kalinya dalam beberapa abad" pada 29 Maret.

Keputusan yang memicu kecaman massal dari para pemimpin Barat, termasuk Perdana Menteri Italia Georgia Meloni, yang mendefinisikan insiden tersebut sebagai "penghinaan bukan hanya terhadap umat beriman tetapi terhadap setiap komunitas yang mengakui kebebasan beragama."

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengutuk "peningkatan pelanggaran status Situs Suci di Yerusalem yang mengkhawatirkan."

Netanyahu kemudian menanggapi pernyataan tersebut, menjelaskan bahwa larangan polisi awalnya menghalangi Kardinal Pierbattista Pizzaballa memasuki Gereja, dengan menyatakan bahwa dia dilarang mengakses tempat tersebut karena kekhawatiran akan keselamatan mengingat perang Israel yang sedang berlangsung melawan Iran.

"Selama beberapa hari terakhir, Iran telah berulang kali menargetkan tempat-tempat suci dari ketiga agama monoteistik di Yerusalem dengan rudal balistik. Dalam satu serangan, pecahan rudal jatuh beberapa meter dari Gereja Makam Suci," kata Netanyahu.

"Hari ini, karena kekhawatiran khusus akan keselamatannya, Kardinal Pizzaballa diminta untuk tidak mengadakan misa di Gereja Makam Suci. Meskipun saya memahami kekhawatiran ini, segera setelah saya mengetahui tentang insiden dengan Kardinal Pizzaballa, saya menginstruksikan pihak berwenang untuk memungkinkan Patriark mengadakan ibadah sesuai keinginannya," imbuh dia.

Topik Menarik