Iran Tembakkan 10 Rudal ke Israel, Salvo Misil Terbesar sejak Perang Pecah
Iran telah menembakkan sekitar 10 rudal balistik ke Israel tengah pada hari Rabu waktu setempat. Ini merupakan peluncuran salvo rudal terbesarnya sejak perang pecah 28 Februari.
Mengutip laporan dari Times of Israel, Kamis (2/4/2026), sirene meraung-raung di seluruh Israel tengah saat rudal-rudal Iran terdeteksi. Tim penyelamat merespons laporan dampak di beberapa daerah, kemungkinan disebabkan oleh puing-puing rudal yang berjatuhan.
Satu rudal dilaporkan membawa hulu ledak cluster, yang menyebarkan bom-bom kecil di wilayah tersebut.
Baca Juga: Iran Siap Berperang 6 Bulan, Sedangkan Trump Ingin Akhiri Perang dalam 2 Pekan
Laporan dari Yedioth Ahronoth menambahkan bahwa penduduk mendengar ledakan di seluruh Israel tengah, sementara sirene diaktifkan di Tel Aviv, Shephelah, dan daerah sekitarnya.
Peluncuran rudal tambahan kemudian dilaporkan menuju Israel tengah, utara, dan wilayah Yerusalem. Belum ada korban jiwa yang dikonfirmasi sejauh ini.Militer Israel atau IDF mengatakan Angkatan Udara-nya juga memulai gelombang serangan besar-besaran yang menargetkan puluhan situs infrastruktur Iran di Teheran.Sekadar diketahui, Amerika Serikat (AS) dan Israel telah membombardir Iran sejak 28 Februari, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan sejumlah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Iran Lanjutkan Perang
Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, mengatakan Iran tidak akan menghentikan perang sampai mengamankan apa yang dia sebut sebagai hak-haknya dan mencegah musuh-musuhnya.“Sampai kita membuat musuh menyesal dan memperoleh hak-hak kami yang pasti, kami tidak akan membiarkannya pergi,” kata mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tersebut.Dia menambahkan bahwa akhir perang bergantung pada pemimpin tertinggi dan rakyat Iran dan memperingatkan Amerika Serikat agar tidak berasumsi bahwa mereka dapat bertindak dan kemudian meninggalkan kawasan itu tanpa konsekuensi.
Rezaei juga mempertanyakan gagasan negosiasi atau gencatan senjata, dengan mengatakan: “Apa artinya berbicara tentang negosiasi dan gencatan senjata dalam kondisi seperti ini?”
Sementara itu, Gedung Putih mengatakan tujuan Presiden AS Donald Trump dalam kampanye melawan rezim Iran tetap jelas dan tidak berubah, sambil mendorong kemajuan yang menentukan.
Trump akan berpidato di hadapan rakyat AS pada Rabu malam waktu Washington tentang Operasi Epic Fury. "Kampanye kekuatan Amerika yang menentukan yang secara sistematis membongkar kemampuan rezim Iran untuk mengancam Amerika Serikat dan dunia bebas," kata Gedung Putih.
Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengatakan operasi tersebut bertujuan untuk menghancurkan persenjataan rudal balistik dan kapasitas produksi Iran, melemahkan kekuatan Angkatan Laut-nya, memutus dukungan untuk kelompok-kelompok sekutu, dan mencegahnya memperoleh senjata nuklir.
Dikatakan bahwa kampanye tersebut dilakukan dengan "kekuatan dan ketelitian yang tak tertandingi" di bawah kepemimpinan Trump.










