Anak Muda Wajib Pahami Kunci Investasi Terukur, Begini Siasat Jitunya
IDXChannel - Kalangan pelaku industri pasar modal mengimbau generasi muda untuk lebih cermat dalam menentukan instrumen investasi yang selaras dengan profil risiko serta tujuan keuangan pribadi.
Pemahaman mendasar mengenai karakteristik aset, mulai dari saham berfundamental kuat, surat utang negara, hingga reksa dana, menjadi kunci utama agar pemodal pemula tidak sekadar tergiur imbal hasil tinggi melainkan mampu mengelola risiko secara terukur.
Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Lily Widjaja mengingatkan, pasar modal menyediakan spektrum instrumen yang sangat luas dengan tingkat risiko yang berbanding lurus terhadap potensi imbal hasilnya. Para pemodal pemula didorong untuk mengenali toleransi psikologis dan kemampuan finansial masing-masing sebelum menempatkan modal.
"Di pasar modal ada yang namanya saham atau equity, fixed income seperti obligasi pemerintah maupun korporasi, serta reksa dana. Ketika kita masuk investasi apa pun, jangan hanya melihat potensi keuntungannya, tapi juga perhatikan risikonya, saya sanggup atau tidak menerima risiko itu," ujar Lily dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Lily menerangkan, bagi pemodal yang berani mengambil risiko tinggi demi mengejar pertumbuhan aset, saham emiten dengan kinerja bisnis yang sehat menjadi pilihan yang dapat diandalkan. Pengenalan terhadap prospek dan fundamental korporasi dinilai ampuh meredam kepanikan saat volatilitas harga jangka pendek terjadi di bursa.
"Kalau kita berbicara investasi saham, tentu saja pertama-tama kita mesti cari memang sahamnya yang cocok, yang kita kenal perusahaan itu dan fundamentalnya oke, sehingga kita tidak perlu worry ketika harganya turun karena kondisi tertentu. Saham itu termasuk yang berani ambil risiko, tapi risiko itu bisa diminimalisir dengan cara memilih saham yang tepat untuk diri kita sendiri," kata Lily.
Sebaliknya, bagi investor yang mengutamakan stabilitas penerimaan kas berkala tanpa terombang-ambing fluktuasi harian, instrumen surat utang negara dapat dijadikan alternatif penempatan modal jangka menengah. Penempatan dana tersebut juga wajib mengandalkan modal menganggur agar tidak mengganggu pos belanja primer harian.
"Kalau tidak terlalu suka risiko, kita bisa masuk fixed income seperti Surat Berharga Negara (SBN) yang memberi imbal hasil lebih tinggi dari deposito dan tiap bulan dapat kupon untuk kebutuhan cash flow. Namun, sungguh perlu diperhatikan bahwa dana yang dipakai itu adalah idle funds atau uang dingin, jangan pakai uang untuk belanja, sekolah, atau makan sehari-hari," kata dia.
Sementara itu, Pengurus Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Gresia Kusyanto menekankan bagi investor pemula yang belum memiliki waktu dan keahlian teknis untuk menganalisis pasar saham secara mandiri, instrumen reksa dana hadir sebagai sarana diversifikasi kolektif. Konsep investasi ini menyederhanakan pengelolaan portofolio dengan biaya yang lebih terjangkau layaknya membeli hidangan siap saji.
"Reksa dana itu gampangnya kayak gado-gado yang bisa langsung kita beli jadi di market atau kita racik masak sendiri. Kalau beli saham sendiri itu ibarat beli telur, tempe, dan tahu sendiri, biayanya pasti lebih besar dan kalau tidak bisa masak sering kali hasilnya tidak cocok, nah itulah gunanya reksa dana," ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Keterlibatan manajer investasi profesional memastikan dana nasabah dikelola secara objektif sesuai mandat kebijakan investasi masing-masing produk. Faktor tahapan usia dinilai dapat menjadi kompas praktis bagi pemodal dalam menyeimbangkan porsi portofolionya.
"Makan gado-gado jadi itu manajer investasi kayak kokinya, jadi teman-teman sudah percaya kepada kami manajer investasi untuk mengelola dana investasi. Mana yang lebih bagus? Tidak ada yang lebih bagus, disesuaikan kondisi masing-masing dan paling gampang pakai patokan umur, seperti umur 20 atau 30-an," kata Gresia.
Bagi kelompok usia 20-an yang baru memulai karier, godaan untuk menempatkan seluruh likuiditas pada aset berfluktuasi tinggi harus dihindari agar tidak terjebak risiko modal tersangkut saat ada kebutuhan mendesak. Pembentukan pos dana darurat pada instrumen likuid dan berisiko rendah menjadi benteng penting sebelum melangkah ke aset pertumbuhan.
"Kebutuhan umur 20 biasanya pengin dapat cuan lebih, bayar paylater sendiri, dan belajar mulai investasi, tapi kalau uang all-in ditaruh di saham sebaiknya jangan karena kalau saham lagi turun dan kita butuh dana, uangnya nyangkut. Makanya penting untuk bagi-bagi investasinya, seperti dana darurat idealnya ditaruh di tabungan atau di reksa dana salah satunya," ujar Gresia.
(Dhera Arizona)









